Oleh: Dahlan Iskan

Dalam kasus penyadapan nan viral dua hari terakhir ini, pertanyaan wartawan yang kelihatannya lugu tapi justru terasa lucu adalah: apakah wapres Gibran termasuk yang disadap?

Mungkin, si wartawan, yang begitu lugunya, tidak pernah mengenal teori konspirasi: bahwa menurut teori itu penyadapan dilakukan untuk mengintai lawan-lawan politik keluarga Solo –termasuk Mas Gibran di dalamnya.

Pertanyaan itu memang diajukan ke Menko Hukum HAM Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra sebelum daftar siapa saja yang disadap beredar di medsos. Jadi pertanyaan itu benar-benar lugu tapi lucu. Prof Yusril sampai tertawa agak lama sebelum bisa menjawab, ”saya tidak tahu”.

Saya mengikuti beberapa kanal TikTok live kemarin malam. Salah satunya yang dipandu Hasbi Center. Yang bergabung di live itu lebih 1.000 orang. Siapa pun boleh bicara. Salah satunya beridentitas kopral –pasti bukan nama sebenarnya. Pembahasan di situ sudah mengarah pasti: penyadapan itu didalangi Jokowi –mantan presiden Indonesia dua periode yang digantikan Prabowo Subianto.

Meski itu teori konspirasi tapi mewakili perasaan banyak orang –yang hanya di pikirannya menyebut nama Jokowi tapi di lisannya terkunci –karena takut kena pasal fitnah.

Tidak mudah membuktikan itu. Mereka yang sekarang menjadi tersangka pasti mengunci mulut. Pergerakan intelijen seperti itu biasanya diikat dalam sumpah mati: tidak akan pernah buka mulut sampai pun disiksa atau diancam dibunuh.

Maka aneh ketika ada kabar bahwa salah satu jenderal polisi bintang tiga yang ditangkap itu kemudian mengaku: penyadapan atas perintah Listyo Sigit Prabowo –yang baru sebulan lalu melepaskan jabatan kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Dari pengakuan mantan ajudan Prabowo itulah Listyo, jenderal bintang empat yang masih aktif dan menjabat kepala staf kepresidenan, ditangkap. Mengapa si bintang tiga sampai mengaku adalah tanda tanya besar. Bisa jadi kepepet sehingga terpaksa mengaku –untuk kelak pengakuan itu dicabut. Bisa juga mengaku beneran. Tapi aneh juga mengapa mudah terpaksa mengaku. Padahal orang yang disebut memerintahkan adalah atasannya –setidaknya mantan atasannya.