Yang begitu itu biasanya karena ”yang bersangkutan” melihat ”kapal” sudah tidak mungkin diselamatkan. Awalnya ybs mengira ”kapal” itu kuat dan kokoh. Ia percaya tidak lama lagi ”kapal” itu akan sampai pelabuhan kekuasaan. Maka kalau ”ybs” bertahan ikut di dalam kapal akan ikut pula naik ke pelabuhan kekuasaan.

Keyakinan mereka bahwa ”kapal” itu kuat dan kokoh terlihat dari fakta di lapangan: popularitas Prabowo terus merosot. Pasti mudah dikalahkan. Persoalan-persoalan besar juga terus melanda negara –mulai bencana korupsi, bencana alam, bencana saham, sampai bencana nilai tukar rupiah. Yang paling parah adalah bencana asap.

Keyakinan bahwa ”kapal” itu kokoh juga terlihat dari seringnya Presiden Prabowo memuji kehebatan Listyo Sigit sebagai kapolri. Apalagi kalau sudah menyangkut MBG: “Dapur milik Polrilah yang terbaik”.

Presiden Prabowo tidak hanya memuji tapi terus mempertahankannya di jabatan itu sampai menjadi yang terlama dalam sejarah Indonesia.

Maka ”awak kapal penyadapan” itu melihat samudera yang dilayari adalah samudera yang tenang. Tidak akan ada gelombang. Kapal bisa terus melaju mengarah ke tujuan tanpa khawatir ada ikan hiu yang bisa mengguncangnya.

Padahal laut itu tidak pernah benar-benar tenang. Kegiatan penyadapan itu bukan tidak ada yang mengintai. Ada intelijen lain yang juga mencari apakah ada intelijen yang mengintelijeni intelijen.

Tanda-tandanya kian nyata. Maka pengendusan kian mengarah ke titik-titik tertentu. Ketika tiba sampai pada kesimpulan bahwa kegiatan penyadapan itu mengarah ke keadaan membahayakan keputusan diambil tiba-tiba: Kapolri diganti!

Sejak itu ”kapal” mulai goyang. Seberapa kuat pun seseorang ia akan kehilangan gigi kalau jabatannya yang sangat berkuasa dipreteli. Kian hari mantan kapolri kian jauh dari kekuasannya. Kian hari pimpinan baru kian menguasai medan.

Polisi –apalagi tentara– menganut disiplin tegak lurus. Taat pada komandan. Bekas komandan bukanlah komandan.

Saat itulah si kapten kapal mulai cari-cari sabuk pengaman: data hasil penyadapan harus dihapus atau dihancurkan. Mereka lupa bahwa penghancuran data itu bisa menjadi pasal lain yang lebih memberatkan mereka.