Perintah penghancuran itu sendiri punya dampak sangat besar bagi mental internal awak kapal: ada apa? Mulai ketahuan? Kapten kapal tidak kuat lagi?
Dalam keadaan ”mental goyah” seperti itu kehancuran mudah datang. Di antara awak pasti ada yang berpikir cari selamat. Bisa dengan cara mencebur ke laut. Bisa membawa lari sekoci. Atau bahkan justru memihak ”lawan”. Bisa juga karena intelijen yang melakukan kontra intelijen kian mudah masuk ke kapal: terbongkar.
Dalam penegakan hukum yang menyasar perusahaan swasta kini sedang dikembangkan teori beneficial owner –untuk menjerat pemilik perusahaan yang bersembunyi di balik legalitas. Pemilik perusahaan tidak perlu menjadi komisaris atau direktur. Kalau ditemukan kejahatan di perusahaan, itu urusan direktur –seperti bunyi anggaran dasar perusahaan. Pemilik selamat.
Padahal ada pemilik perusahaan yang tidak jadi komisaris atau pun direktur sebagai taktik semata. Dalam praktiknya keputusan penting tetap di tangannya. Maka kini dicari siapa beneficial owner –penerima manfaat sebenarnya perusahaan itu. Maka pemilik yang bersembunyi di balik legalitas anggaran dasar tidak bisa bersembunyi lagi.
Apakah dalam kasus penyadapan ini juga akan dipakai teori beneficial owner? Dalam istilah politik tidak dikenal beneficial owner. Yang dikenal adalah ”dalang”: siapa dalangnya? Maka beredarlah teori konspirasi menduga-duga siapa dalang di balik penyadapan itu.
Bisa saja tidak ada dalang di balik layar penyadapan. Bisa saja semua itu inisiatif kapten kapal. Tidak ada perintah. Tidak bikin laporan. Beneficial owner hanya merasa pasti ada mantan anak buah yang mau melakukan apa pun demi dirinya.
Mungkin beneficial owner senyum-senyum dan tawa kecil saja. Ia tahu tidak boleh minta dilakukan penyadapan. Ia tidak boleh pernah menerima laporan hasil penyadapan. Urusan seperti itu terlalu tetek-bengek –yang bisa tidak dapat teteknya melainkan hanya dapat bengeknya.
Maka bisa jadi kegiatan penyadapan itu sepenuhnya inisiatif kapten kapal. Atau inisiatif seluruh ABK. Mereka juga tidak merasa perlu melaporkan hasilnya ke siapa pun. Mereka cukup merasa ”si beliau” senang dengan upaya yang mereka lakukan. Si beliau hanya tahu hasilnya tanpa peduli prosesnya.