Dari hasil liputan Panahatan itu saya jadi tahu bahwa GI Sei Harapan adalah GI yang masih baru. Ada dua trafo besar di situ. Yang satu sudah terpasang sekitar tiga bulan lalu. Yang satu lagi baru terpasang satu bulan lalu.

“Senin pagi itu terdengar suara ledakan yang keras dari GI itu,” ujar seorang warga kepada Panahatan.

Kawasan sekitar GI ternyata perumahan liar yang padat. Sekitar 200 ruli memenuhi dua sisi GI. Satu sisinya lagi empang. Sisi satu lagi jalan raya.

Ia belum dapat info: apakah kera itu datang ke GI seorang diri atau bergerombol seperti kebiasaan di komunitas monyet. Sayang kera tersebut ditemukan tewas mengering sehingga tidak bisa ditanya apakah ia datang ke situ dengan maksud sengaja ingin bunuh diri: misalnya karena stres akibat hutan habitat mereka kian sempit di Batam.

Persoalannya bukan hanya mengapa kera bisa sampai di situ. Yang lebih penting: mengapa sistem pengaman otomatisnya tidak berfungsi.

Setiap GI dilengkapi CB –circuit breaker. Di rumah Anda CB itu biasa Anda sebut dengan nama sekring. Bentuknya tidak sama tapi fungsinya serupa. Di gardu induk ada CB di lapisan pertama, ada beberapa CB di lapisan kedua.

Seharusnya begitu si kera mengenai jaringan –dan korslet– CB lapisan pertama itu ”jatuh”. Maka terputuslah hubungan antara jaringan yang terkena kera dengan keseluruhan jaringan di GI. Aman. Tidak merembet ke mana-mana. Hanya yang terganggu itu yang putus.

Ternyata sekring pertama itu tidak ”jatuh”. Mengapa tidak ”jatuh” tidak bisa dijawab sekarang. Harus diteliti tim ahli sistem kelistrikan. Bisa. Ada recording-nya. Lengkap. Bisa dianalisis dari recording system di GI.

Akibat sekring pertama tidak “jatuh” maka gangguan diteruskan ke sistem berikutnya. Maka sekring-sekring di lapisan pengaman kedua “berjatuhan”. Putuslah semua jaringan. Keseimbangan sistem pun terganggu. Tegangan pun mendadak berubah –”menghantam” pembangkit listrik di tempat yang jauh sana: mati!

Ada setidaknya delapan GI 150 kV tersebar di seluruh pulau Batam. Salah satunya yang dimasuki kera itu.