Di Shanghai, problem jalan melintas seperti itu juga ada di Nanjing Dong Lu. Itulah ”Malioboro”–nya Shanghai. Mobil tidak boleh melintas. Tapi jalan yang memotongnya tidak sebanyak di Malioboro. Jalan yang melintas itu juga cukup lebar. Pejalan kaki di Jalan Nanjing Dong Lu sesekali di-stop untuk memberi kesempatan lalu-lintas di jalan yang memotong tetap berfungsi.

Wali Kota Hasto sudah berhasil mengayunkan dua langkah di Malioboro. Ia masih perlu banyak melangkah di depan. Ia wali kota pertama dari PDI-Perjuangan di Yogyakarta. Juga wali kota pertama yang bukan berdarah pendiri Muhammadiyah.

Hasto sukses besar saat jadi bupati Kulon Progo. Juga sukses ketika jadi kepala BKKBN –jabatan setara menteri. Hasto pun sukses sebagai dokter –sampai jadi ahli bayi tabung dan punya rumah sakit sendiri di Yogyakarta. Ia juga sukses sebagai suami dari seorang istri yang juga dokter spesialis anak.

Tugasnya sebagai wali kota Yogyakarta tinggal tiga tahun lagi. Ia sulit menjabat dua periode karena sudah dihitung satu periode saat jadi bupati Kulon Progo.

“Masih berpraktik sebagai dokter?” tanya saya.

“Masih, meski pun tinggal seminggu sekali,” katanya. “Itu pun saya batasi 50 pasien saja,” tambahnya.

“Kenapa masih berpraktik?”

“Itu untuk memenuhi pesan ibu. Tidak boleh berhenti menolong pasien,” jawabnya.

Kini pasiennya tidak hanya manusia. Ia juga harus menolong merawat warisan dunia lembaga kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO berupa: Sumbu Filosofi Malioboro.

Saya pun pamit, besoknya harus ke Nagoya. (Dahlan Iskan)