Oleh: Dahlan Iskan

Tanggal 3 Oktober 2026, tidak hanya ada persiapan Grand Prix MotoGP di Lombok; ada juga media baru bernama Disway Lombok –bagian dari jaringan media Disway National Network (DNN).

Saat bertemu Gubernur NTB Lalu Mohamad Iqbal 26 September, saya laporkan kabar baik itu. Pun ketika bertemu Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di kesempatan yang sama.

Hari itu saya memang di Mataram: jadi saksi pernikahan keluarga. Pengantin wanita adalah sepupu keponakan saya yang bertugas di Kejati NTB. Pengantin pria adalah staf wali kota Mataram. Gubernur dan Wali kota hadir. Kami ngobrol beberapa hal. Salah satunya soal terbitnya Disway Lombok.

—

Gubernur Mamiq –begitu rakyat NTB biasa memanggil Mohamad Iqbal– tidak kalah gesit. Begitu saya selesai ”mempromosikan” Disway, gubernur ganti promosi Lombok. “Sebentar lagi akan terbit jenis baru transportasi di Lombok,” ujar Gunernur Mamiq.

Jenis angkutan baru itu, katanya, akan bisa meningkatkan pariwisata di Lombok. Yakni seaplane. Atau biasa juga disebut float plane.

“Seaplane itu dari Kanada,” ujar gubernur. Itu jenis pesawat yang bisa mendarat di pantai atau di danau. Tidak harus mendarat di landasan bandara.

Saya, yang baru pulang dari keliling Kanada (bagian timur), langsung tahu apa yang dimaksud Gubernur NTB itu. Yakni pesawat jarak pendek yang di Kanada memang sangat populer.

Di Lombok pesawat seperti itu akan bisa mendarat di pantai Kuta, pantai indah di Lombok Selatan. Atau mendarat di pantai Senggigi dekat untaian pulau Gili Trawangan. Sedang di Bali pesawat itu bisa mendarat di teluk Benoa.

Maka tidak lama lagi turis dari Bali bisa ke Lombok dengan pesawat jenis itu: Benoa–Senggigi atau Benoa–Kuta. Tidak harus lewat bandara Ngurah Rai ke Bandara Lombok di dekat Mandalika.

Pemerintah pusat harusnya senang dengan rencana di Lombok itu. Selama ini angkutan udara Bali-Lombok menggunakan pesawat jenis baling-baling ATR –mondar-mandir Ngurah Rai–Mandalika. Akibatnya landasan pacu di Ngurah Rai sangat “terganggu”: terlalu banyak pesawat kecil naik turun di Ngurah Rai. Itu memakan slot landing dan take off yang kurang efisien. Padahal lebih baik slot itu diberikan ke pesawat-pesawat besar yang membawa turis lebih banyak.