Sekitar panggung itu hutan. Memang di awal pembangunannya panggung itu dimaksudkan untuk mengawasi perburuan kijang di hutan sekitarnya. Anda masih ingat: di zaman itu Krapyak masih berupa hutan. Tempat pejabat kraton berburu rusa. Kata ”krapyak” sendiri konon berasal dari bahasa Jawa yang artinya perburuan. Di Magetan perburuan seperti itu disebut ”gropyok”. Tapi di bagian mana dari gropyok itu yang bisa ditafsirkan sebagai lambang kelahiran manusia?

Sumbu selatan-utara Yogya itu dibangun tahun 1755 –sekitar 20 tahun sebelum kemerdekaan Amerika. Yang membangunnya Anda sudah tahu: Sultan Hamengkubuwono I. Yakni sebagai ibu kota baru kerajaan Mataram-baru setelah Mataram pecah menjadi Solo dan Yogyakarta

Sebelum itu ibu kota Mataram adalah Kartasura. Yogyakarta belum ada apa-apa. Pangeran Mangkubumi –nama sebelum menjadi Hamengkubuwono I– tergolong sayap antipenjajahan di istana Mataram. Bertahun-tahun melawan Belanda. Akhirnya ia mau diajak berunding. Itulah yang disebut perundingan Giyanti.

Hasil perundingan: wilayah Mataram dibagi dua. Pangeran Mangkubumi mendapat wilayah di sebelah barat. Jadi rajanya yang pertama. Namanya menjadi Hamengkubuwono I.

Yang tertinggal di Kartosuro pun memindahkan ibu kota ke desa Sala –sekarang di pusat kota Solo. Yakni setelah terjadinya Geger Kuning –gerakan perlawanan yang banyak diikuti orang Tionghoa. Orang Tionghoa memang lagi marah kepada Belanda di mana-mana. Yakni sejak Belanda melakukan pembantaian besar-besaran suku Tionghoa di Tangerang.

Setelah menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota Mataram pasca perjanjian Giyanti, Hamengkubuwono I membuat perencanaan kota Yogyakarta. Bukan pakai sistem kotak-kotak seperti Washington DC. Bukan kuldesac seperti Paris. Bukan lingkar-lingkar seperti Italia. Tapi berdasar sumbu selatan-utara. Itu dikaitkan dengan filsafat perjalanan kehidupan manusia –meski soal panggung Krapyak masih menyisakan tanya.

Yang membuat itu jadi warisan budaya dunia UNESCO: rancangan yang sudah berumur 300 tahun itu masih hidup sampai sekarang dan masih jadi pembicaraan. Memang Malioboro masih belum bisa dipulihkan. UNESCO dan Pemkot Yogyakarta terus berkoordinasi. Mereka sudah punya jadwal tahapan-tahapan program pembenahannya. Saling monitor. Tapi bola ada di Pemkot Yogyakarta.