Perusahaan yang mengoperasikan Vigota-8, PT Virgo Karya Shipping, adalah perusahaan lama tapi baru dua bulan menjalankan kapal feri. Baru punya satu kapal Vigota-8 itu, yang baru dibelinya dari Jepang tiga bulan lalu.
Selama ini PT Virgo memang sudah bergerak di bidang kapal tapi kapal tarik tongkang. Manajemen PT Virgo lebih menguasai di bidang tarik tongkang daripada feri. Yang diangkut tongkang batu bara dan sejenisnya. Bukan nyawa manusia.
Walhasil kapal tua sama sekali tidak bisa disalahkan. Yang penting kapal itu sudah dinyatakan laik jalan oleh lembaga yang berwenang. Kapal tua bisa diperbarui: ganti plat baja di bagian-bagian yang dianggap sudah menipis. Itu sangat biasa. Standar internasionalnya begitu. Kapal adalah satu-satunya kendaraan yang boleh ganti baja. Tidak ada pesawat yang boleh ganti sebagian aluminium di bodinya.
Penyebab kapal miring lainnya adalah: salah dalam menyusun muatan. Doktrin ini semua kapten kapal tahu: muatan yang paling berat harus ditempatkan di sebelah mana. Kalau kapalnya bertingkat, muatan paling berat harus di lantai paling bawah. Tidak boleh truk yang paling berat ditaruh di lantai atas.
Maka manajemen pemuatan barang sangatlah penting. Ada SOP-nya: truk mana yang boleh masuk lebih dulu. Mana yang harus masuk kapal belakangan. Tidak boleh hanya berdasarkan urutan antrean.
Tidak boleh ada sogok-menyogok agar bisa masuk duluan. Tidak boleh sopir truk menipu saat mendaftarkan apa saja isi truknya. Kecenderungan menipu ini terjadi, utamanya, kalau yang diangkut barang sensitif seperti kimia atau baterai.
Persaingan antar feri juga sangat membahayakan. Ada feri yang disiplin menegakkan aturan. Misalnya tidak mau mengangkut truk ODOL. Itu sangat berbahaya bagi kapal. Tapi di saat yang sama ODOL yang ditolak itu diterima oleh feri yang kekurangan muatan.
Tenggelamnya Vigota-8 menyisakan banyak sekali pertanyaan mendasar di seputar itu. Jangan sampai semua masalah ditutupi dengan satu tuduhan: kapalnya tua.
Kasihan yang tua-tua tapi masih bertenaga. (Dahlan Iskan)