Oleh: Dahlan Iskan
Satu toko pakaian menjual baju seragam SD Rp1.000.000 untuk 30 siswa di satu kelas. Toko memberi potongan harga 15 persen, tapi mengenakan pajak 11 persen. Berapa yang harus dibayar oleh pembeli?
Anda pasti bisa menjawabnya dengan mudah. Tapi siswa kelas tiga SD belum tentu bisa. Siswa SD kita tidak dibiasakan diberi pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang selalu diberikan adalah 10 x 30 = berapa.
Pertanyaan pertama diperlukan berpikir. Pertanyaan kedua diperlukan menghafal.
Cara mengajar memang sudah harus berubah. Gurulah yang menjadi pusat perubahan itu.
Untuk perubahan itu umumnya menunggu gaji naik. Padahal, tanpa menunggu, bagi yang mampu berubah akan dapat tawaran gaji lebih tinggi di sekolah-sekolah unggulan.
Pemerintah sudah berusaha meningkatkan mutu guru: lewat sertifikasi. Yang sudah punya sertifikat dapat tunjangan: berarti pendapatannya naik. Itulah yang sering disebut ”tunjangan sertifikasi”.
Protokol untuk mendapatkan ”sertifikat guru bermutu” tidak seberat ijazah salawat Dala’il: harus puasa tiga tahun.
Untuk mendapat ”ijazah guru bermutu” itu juga ada protokolnya: ikut pelatihan guru. Tidak harus tatap muka. Bisa lewat online. Ada penjual jasa ”pelatihan untuk sertifikasi” yang diakui pemerintah. Setelah cukup belajar guru bisa ikut ujian sertifikasi. Ada jadwalnya. Setahun dua atau tiga kali.
Sepengetahuan saya, sampai tahun lalu sudah sekitar 70 persen guru kita yang bersertifikat. Rasanya ”tinggal” satu juta orang guru lagi yang belum bersertifikat. Pemerintah terus berusaha mempercepatnya.
Persoalannya, di dalam praktik, belum banyak perubahan: 3 x 3 masih = 9. Itu yang membuat skor PISA (Programme for International Student Assessment) di Indonesia masih sangat rendah. Di negara seperti Jepang capaian skor PISA-nya sudah 6. Sedang skor PISA kita masih 1. Bahkan di bawah itu: masih 0,8.
Anda sudah tahu apa itu skor PISA. Yakni skor yang ditetapkan oleh negara-negara OECD. Kalau negara-negara lain ingin semaju negara OECD capaian skornya harus mendekati yang ditetapkannya. Mereka menyebutnya skor PISA.