finnews.id – Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta untuk Nenek).
Dear You adalah film kedua yang saya tonton tahun ini: karena diundang untuk menontonnya. Bersama para pengusaha besar dan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya: Ye Su.
Film itu memang sangat menyentuh, khususnya bagi keturunan para perantau. Anda sudah tahu: film pertama yang saya tonton tahun ini juga karena kebetulan.
Saat itu saya sedang dalam penerbangan lintas benua. Untuk mengatur agar tidak jetlag saya tidak boleh tertidur. Bacaan sudah habis. Menulis artikel sudah selesai. Kebetulan ada pilihan film ringan yang sudah lama ingin saya tonton: Michael! Tentang Michael Jackson.
Sambil nonton Dear You saya terus bertanya-tanya: mengapa untuk pasar internasional film ini diberi judul Dear You. Di Tiongkok memang sudah biasa: nama asing untuk sebuah merek tidak harus terjemahan dari bahasa asli. Mercy, misalnya, di Tiongkok disebut Benze. Toyota disebut Fengtian. Starbucks dibuat agak mirip dengan artinya: Xing Pa Ke.
—
Mungkin judul Dear You dimaksudkan untuk mendapatkan makna yang lebih luas tapi tetap ”menyasar” ke hati: you! Pemakaian kata ”dear’ juga begitu. Kata ‘dear’ sering dipakai sebagai pembuka sebuah surat di masa lalu.
Film Dear You memang bicara tentang surat-surat dari perantauan di zaman jauh belum ada WA. Tahun 1940-an. Surat-surat cinta itu banyak yang tidak sampai ke alamat.
Para perantau di zaman itu juga banyak yang tidak bisa baca tulis. Tapi cinta sejati bisa mencari jalan keluar yang unik. Ada perusahaan jasa membacakan surat. Termasuk jasa menuliskan surat. Sekaligus mengirimkannya. Di masa lalu cinta terlihat lebih suci: begitu sulit menyatakan cinta tapi tetap bisa melakukannya.
Kisah Dear You dimulai ketika seorang gadis cantik di desa Shantou –bernama Ye Shurao– dijodohkan oleh orang tuanyi. Tapi bukan calon suami itu yang dia cintai. Akhirnya dia kawin lari dengan pemuda idamannyi sendiri: Zheng Musheng.