Suami istri itu pun hidup bahagia. Punya anak tiga.

Sampai bencana tiba: perang candu. Kerajaan mewajibkan semua anak muda ke medan perang. Nama Musheng termasuk dalam daftar. Sang istri setuju suaminyi menghilang: merantau ke Nan Yang. Daripada ikut perang dengan risiko tewas di medan perang.

Berlayar ke Nan Yang memang amat populer zaman itu. Nan Yang adalah sebutan untuk wilayah yang sekarang disebut Asia Tenggara. Belum ada Malaysia, Singapura mau pun Indonesia saat itu. Semuanya disebut Nan Yang (laut selatan).

Dari pelabuhan Shantou, Musheng berlayar meninggalkan istri tercinta dan tiga anak kecilnya. Setelah sebulan di laut Musheng mendarat di tanah Melayu. Lalu pindah ke utara: ke Bangkok. Di Bangkok lebih banyak perantau sekampung: sama-sama bersuku Zhaozhou (Tiuchu). Di Bangkok Musheng bisa serasa di kampung sendiri. Di Bangkok juga lebih banyak perantau dari suku Hakka, tetangga Zhaozhou.

Di Tiongkok suku Zhaozhou tinggal di tiga kabupaten paling utara provinsi Guangdong. Lebih dekat ke Xiamen daripada ke ibu kota provinsnya sendiri: Guangzhou.

Maka dialog di film Dear You sendiri pakai bahasa Zhaozhou. Bukan Mandarin. Penonton terbantu oleh teks bahasa Inggris dan Indonesia.

Selesai menonton saya hampiri seorang wanita kaya asal Singkawang. Dia bersuku Zhaozhou: separo Tionghoa Singkawang memang suku Zhaozhou. Separonya lagi suku Hakka.

Wanita itu istri seorang pengusaha terkaya Surabaya meski sang pengusaha selalu tampil seperti orang kebanyakan. Perusahaan kopinya terbesar di Indonesia. Punya pabrik kopi di beberapa negara.

“Apakah Anda mengerti sepenuhnya dialog di film tadi?” tanya saya.

“Mengerti separo,” katanyi.

“Kan Anda orang Zhaozhou….”.

“Iya, tapi itu bahasa asli di sana,” jawabnyi.

Lalu saya menoleh ke suaminyi. Ia suku Fujian dari nenek moyang di Quangzhou.

“Anda mengerti berapa persen?”

“Hanya mengerti satu dua kata,” jawabnya.

“Anda tadi menangis?” tanya saya lagi.

“Tidak,” jawabnyi.

“Saya menangis….” kata saya.

Memang, dua kali saya berlinang air mata.