Sang istri tidak tahu kalau yang selalu kirim surat dan uang itu sebenarnya si gadis Nanzhi.

Sekeluar dari penjara Musheng dapat pekerjaan sebagai penarik becak. Becak gaya Thailand. Lama-lama hasilnya bisa untuk menyewa kapal kayu. Musheng pun punya kapal kecil. Ia mulai jadi pengusaha angkutan sungai.

Si gadis tahu Musheng sudah punya penghasilan. Sudah bisa kirim uang sendiri. Dia tidak perlu lagi menulis ‘surat palsu’ ke istri Musheng.

Musibah lagi. Di dermaga kapal itu ada perampokan. Di kegelapan malam Musheng membantu menangkap orang yang merampok perahu di sebelah perahunya. Musheng kalah. Tewas. Dibuang ke laut.

Si gadis anak juragan amat sedih kehilangan orang yang amat dia sayangi. Dia sampai bikin papan arwah (神主牌) Musheng. Papan arwah itu ditaruh di kelenteng. Si gadis sembahyangi terus papan arwah itu secara rutin.

Bertahun-tahun pula gadis Nanzhi selalu kirim surat ke istri Musheng seolah sang suami baik-baik saja. Nanzhi juga terus kirim uang seakan-akan dari suami.

Ketika usia gadis Nanzhi kian tua dia berada di satu dilema besar: apakah akan tetap terus menulis surat ke istri Musheng –seolah Musheng masih hidup. Atau mulai berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia.

Dia putuskan: tidak. Dia tidak sampai hati membayangkan betapa sedih istri Musheng. Maka, si gadis tiap bulan tetap kirim uang ke istri Musheng. Disertai surat cinta seperti biasanya. Sang istri juga selalu membalas surat itu.

Pernah uang kiriman itu dipakai sang istri ke kota: untuk berfoto keluarga. Sang istri ingin suaminyi tahu bahwa dia masih tetap cantik dan anak-anak mereka sudah mulai sekolah.

Si gadis sangat sedih setiap kali membaca surat balasan istri Musheng. Melihat foto anak-anak Musheng, si gadis tidak hanya kirim uang tapi juga kirim sepeda. Betapa senang mereka menerima kiriman sepeda. Anak-anak itu pun belajar naik sepeda. Pun sang istri.

Mereka pun berkesimpulan Musheng baik-baik saja, bahkan penghasilannya mulai besar. Bisa kirim sepeda.

Akhirnya si gadis yang mulai berumur memutuskan: saatnya berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia. Tapi itu harus dijelaskan dengan surat yang amat panjang. Dia sertakan pula foto ketika Musheng dan dirinyi berfoto bersama beberapa anak perantau yang belajar membaca di rumah kos-kosan.