Tentu perlu ada pengusutan: apa saja yang dilakukan sang kapten sejak inclinometer menunjukkan indikator kapal miring melewati angka 15 derajat. Pada jam berapa mulai melewati angka 15. Instruksi apa saja yang dilakukan kapten ke anak buah antara jam itu sampai pukul 01.00.
Pengakuan kapten kapal harus dicek ke awak. Siapa menerima instruksi apa.
Instruksi utama, mestinya, adalah: cek muatan. Apakah ada muatan yang bergeser. Muatan yang bergeser bisa menjadi penyebab kapal miring.
Di sinilah manajemen krisis harus dikuasai kapten beserta seluruh kru kapal. SOP harus digariskan, dilatihkan, diuji.
Di kapal tua tersedia cadangan air di bagian bawah kapal. Air itu ditempatkan di banyak ”bilik air”. Tujuannya, bila kapal miring ke kiri maka air di bilik kiri dipompa, dipindahkan ke bilik kanan. Di kapal modern semua itu sudah dikerjakan oleh IOT –internet of think. Begitu kapal miring internet memutuskan semuanya.
Maka bisnis angkutan umum tidak boleh hanya memikirkan untung. Pikiran utama adalah keselamatan –keuntungan akan otomatis mengikuti di belakangnya. Manajemen perusahaan angkutan harus mendalami prinsip-prinsip keselamatan.
Contohnya: perusahaan pembuat pesawat seperti Boeing. Mestinya Boeing senang kalau ada perusahaan yang datang untuk membeli pesawat. Tapi Boeing tidak akan melayani pembelian yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak punya tim manajemen yang memenuhi syarat untuk sebuah perusahaan penerbangan.
McDonald’s saja tidak mau memberikan lisensi untuk seseorang yang tidak memahami SOP McDonald.
Anda tentu masih ingat ketika anak Mensesneg (yang kemudian jadi Wapres) Soedharmono, Bambang Rahmadi, ingin membeli lisensi McDonald’s untuk Indonesia. Meski ia anak pejabat tinggi yang sangat dipercaya Presiden Soeharto, Bambang tetap harus kerja magang dulu di McDonald’s Singapura selama….enam bulan!
Selama magang ia harus bekerja sungguh-sungguh di semua bagian, mulai dari yang terbawah. Setelah lulus barulah McDonald’s memberikan lisensi kepadanya.
Harusnya untuk menjadi direktur utama sebuah perusahaan pelayaran kualifikasinya melebihi McDonald’s. Ibarat untuk menjadi komisaris sebuah bank harus lulus ujian khusus di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Anaknya pemilik bank pun tidak bisa jadi komisaris tanpa ujian di OJK.