Belakangan Kiai Imam Jazuli juga sudah dipercaya memberikan ijazah Dala’il bagi siapa saja. Yakni yang sudah menjalankan protokol Dala’il. Sistemnya sudah sangat modern. Anda bisa mendaftar lewat aplikasi.

Terakhir pemberian ijazah Dala’il dilakukan Imam Jazuli dalam satu acara besar di hotel bintang empat di Cirebon: ribuan orang.

Sejak kecil Kiai Jazuli memang diinginkan jadi kiai. Ayahnya selalu menekankan untuk sering-sering membaca Dala’il lengkap dengan seluruh protokol terberatnya: termasuk puasa selama tiga tahun. Ia pernah tergoda mendalami ilmu kesaktian di Banten tapi ayahnya melarang diteruskan. “Saya khawatir kamu nanti jadi dukun,” kata sang ayah. “Kamu sendiri saya beri nama belakang Jazuli supaya bisa seperti penulis kitab Dala’il,” ujar sang ayah. Anda sudah tahu siapa penulis Dala’il: Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli –ulama Maroko dari suku Jazulah abad ke 15.

Ada lagi pembawa selawat yang sangat terkenal. Dari Solo. Anda pasti sudah tahu namanya: Habib Syech. Inilah selawat jenis pop. Dilagukan. Pakai alat musik tepuk. Larisnya bukan main.

Kalau Anda ingin mendatangkan Habib Syech bisa-bisa harus antre dua tahun. Saya termasuk yang sering hadir di pelantunan selawat Habib Syech. Biasanya saya diminta duduk di panggung, di sebelahnya.

Begitu banyak pengagum Habib Syech sampai mereka membentuk organisasi dengan nama Syecher Mania. Saya pernah diangkat secara informal sebagai ketua nasional Syecher Mania.

Selawatnya Habib Syech bukan Dala’il. “Buku selawat yang saya rutinkan baca adalah maulid Simtud Duror dan Burdah,” ujar Habib Syech kemarin.

Selawat Simtud Duror (untaian mutiara) lebih banyak menceritakan sejarah Nabi Muhammad. Penulisnya Habib Ali Muhamad al-Habsyi. Al-Habsyi adalah ulama Hadramaut (Yaman) yang wafat tahun 1915 di kota yang saya kunjungi tahun lalu: Syai’un.

Jadi, mana jenis selawat yang paling banyak dibaca orang di bulan Maulid seperti sekarang ini? Barzanji? Dala’il? Simtud Duror? Burdah?

Anda yang bisa jawab. (Dahlan Iskan)