Untuk membaca Dala’il pun ada ‘protokol’-nya. Satu buku Dala’il terbagi menjadi tujuh bagian –untuk dibaca selama tujuh hari, satu bagian satu hari. Tebalnya Dala’il sekitar 120 halaman, tergantung besar kecilnya huruf yang dipakai.
Berarti pada hari ketujuh tamatlah itu pembacaan Dala’il. Setelah itu Anda bisa mendapat ijazah. Siapa yang memberi ijazah? Banyak kiai yang dipercaya untuk memberi ijazah Dala’il. Salah satu yang paling ”laris’ adalah KH Badhawi Basir dari Kudus. Nama pesantrennya: Darul Falah.
“Kapan bermalam di sini lagi?” tanya Kiai Basir saat saya telepon kemarin.
Saya memang pernah bermalam di pesantren Darul Falah ketika menjabat sesuatu dulu. Waktu itu pun Kiai Basir sudah ‘berpraktik’ memberi ijazah Dala’il. Sudah ribuan.
Praktik memberi ijazah Dala’il itu sudah dilakukan di Darul Falah sejak kakeknya dulu: juga seorang kiai. Dilanjutkan oleh bapaknya: juga kiai. Lalu ‘diwariskan’ ke kiai Basir.
Seorang kiai tidak dipercaya bisa memberikan ijazah kalau tidak pernah ”dibai’at” sebagai pemberi ijazah oleh kiai pemberi ijazah sebelumnya.
Ijazah ‘Dala’il’ bertingkat-tingkat. Ada yang sekadar setelah pembacaan selawat Dala’il selama tujuh hari. Ada yang sebelum itu harus puasa dulu sekian hari. Ada yang puasanya sampai 40 hari. Bahkan ada ijazah Dala’il yang baru diberikan kalau Anda sudah berpuasa selama tiga tahun.
Dulu Gus Basir menjalani semua protokol yang terberat itu. Lalu jadilah ia kiai. Kemudian diberi wewenang untuk memberi ijazah.
Kata ”ijazah’ sudah dikenal berabad-abad lalu di dunia sufi Islam. Lalu diadopsi oleh sistem pendidikan modern dengan nama ijazah –sebagai tanda telah tamat sekolah.
Salah satu yang mendapat ijazah Dala’il dari Kiai Basir adalah Imam Jazuli. Bukan sembarang ijazah. Imam Jazuli dapat jazah setelah menamatkan bacaan Dala’il yang didahului tirakat dan puasa selama tiga tahun. Sekarang Imam Jazuli menjadi kiai terkenal di Cirebon. Pesantrennya, BIMA, sangat terkenal. Alumni pesantren BIMA 100 persen diterima kuliah di luar negeri: Mesir, Maroko, Jerman dan kini Tiongkok. Di forum debat santri dalam bahasa Mandarin yang dilaksanakan Disway Ahad lalu BIMA mengirim 30 santri.