Mereka pun mendatangkan kepala desa: agar jadi penengah. Kepala desa berpendapat sama dengan penjual: 4 x 50 adalah 200. Tapi si pembeli tetap ngotot 4 x 50 adalah 150. Di dunia nyata memang ada orang seperti itu. Bahkan tokoh. Ia tetap merasa benar meski semua orang mengatakan salah.
Akhirnya kepala desa dan pembeli sepakat datang ke orang yang paling bijaksana di zaman itu: Konghuchu. Mereka sepakat apa pun kata Konghuchu harus dipatuhi. Mereka bertaruh: kalau pembeli yang salah siap dipotong lehernya. Kalau kepala desa yang salah siap kehilangan jabatan.
Keduanya pun datang ke Konghuchu disertai si pedagang. Di depan Konghuchu Kepala desa ngotot yang benar adalah 200. Si pembeli ngotot yang benar adalah 150. Masing-masing juga menceritakan taruhan mereka.
“Nabi Konghuchu, 4 x 50 itu berapa?” tanya kepala desa.
“150,” jawab Konghuchu.
Kepala desa tentu protes keras. Kenapa Konghuchu bisa menjawab begitu.
“Sebetulnya yang benar adalah 200,” ujar Konghuchu. “Tapi kalau saya jawab begitu akan ada satu orang yang mati.”
Rakyat baiknya ikut bijaksana seperti Konghuchu saat melihat ada langkah yang dianggap salah.(Dahlan Iskan)