Salah satunya: harus membangun lab yang modern dan mahal. “Agar kalau ada hoax soal mutu Sido Muncul langsung diadakan uji lab yang sangat ilmiah,” katanya. Maka inilah satu-satunya industri jamu yang punya lab setingkat farmasi. Bahkan lebih tinggi dari sebagian perusahaan farmasi.
—
Pernah, suatu hari, Irwan cari tahu siapa pembuat hoax itu. Apa latar belakangnya. Ia kerahkan kekuatan untuk mencari orangnya. Ketemu. Tidak untuk diadukan ke polisi tapi agar tahu apa motif di balik hoax yang dibuatnyi.
“Jauh sebelum itu saya sudah punya keyakinan hoax tidak mungkin dilakukan oleh perusahaan pesaing. Pengusaha tidak mau melakukan itu,” ujar Irwan.
Ternyata benar. Yang melakukan hoax bukan pesaing. Bahkan bukan pedagang. Dia seorang ibu rumah tangga biasa.
Sang ibu diundang Irwan ke pabrik Sido Muncul. Ditunjukkan padanyi modernitas pabriknya. Juga modernitas peralatan lab-nya. Akhirnya sang ibu mencabut postingannyi.
Bukan itu yang terpenting. Tapi mengapa sang ibu melakukan itu. Ternyata dia sendiri peminum Tolak Angin. Pun suaminyi. Dia memposting hoax semata hanya untuk meraih popularitas.
“Menjelekkan perusahaan terkenal akan ikut terkenal”, itu prinsip orang seperti ibu itu. Sangat spontan. Lalu menyesal. Tapi sudah membuat kerusakan.
Bahwa Irwan tidak melaporkan ibu itu ke polisi, itulah kepribadian asli Irwan. Ia tipe orang yang tidak ingin cari musuh. Promosi Sido Muncul pun dilewatkan jalan kebaikan. Misalnya sambil melaksanakan operasi katarak. Atau bibir sumbing. Mudik Lebaran bareng.
“Kalau toh promosinya tidak berhasil sudah meninggalkan kebaikan. Dari pada promosi yang gagal dan tidak meninggalkan apa-apa,” katanya.
—
Tidak mau mengadukan orang yang mencelakakannya juga didasari prinsip dalam hidup: harus ada orang yang mau mengalah.
Karena itu di dinding lobi hotel miliknya, Tentrem Semarang, ia pasang lukisan besar seorang ibu Tionghoa yang menasilhati anaknyi tentang pentingnya kebijaksanaan dalam hidup.
Diceritakan, di suatu zaman seseorang datang ke pasar membeli kain. Empat meter. Harga per meter 50. Si pembeli hanya membayar 150. Menurut si penjual 4×50 = 200. Menurut si pembeli 4 x 50 = 150. Keduanya saling ngotot, merasa paling benar.