Oleh: Dahlan Iskan

Antara senang dan menyesal. Senangnya: biar pun pesawat ini sedang melintas di atas samudera Atlantik saya tetap bisa kirim naskah ke redaksi Disway. Juga bisa buka komentar para perusuh, lalu memilihnya, lalu kirim ke redaksi.

Itu berkat ada wifi gratis on board. Tidak harus bayar seperti dulu. Memang sudah lama ada wi-fi di dalam pesawat tapi biasanya harus bayar. Jauh lebih mahal dari wi-fi biasa. Juga lemot. Dari pada bayar, pilih tahan diri sampai mendarat.

Dalam penerbangan dari Dubai ke New York kemarin wi-fi-nya gratis. Kapasitasnya besar. Cepat. Akhirnya 14 jam di atas pesawat saya lebih sibuk dengan internet.

Dulu, dalam penerbangan panjang seperti ini, saya punya kesempatan langka. Bisa diam. Bisa pasrah. Tidak bisa ke mana-mana. Hanya bisa tiduran. Sambil merenung. Berimajinasi. Dalam situasi seperti itu imajinasi bisa bebas dan liar. Tidak ada yang ganggu.

Sering juga waktu sesunyi itu untuk melakukan kontemplasi: apa yang selama ini terasa salah. Baik dalam sikap, kepribadian, maupun keputusan-keputusan.

Di penerbangan kali ini yang seperti itu tidak bisa lagi saya dapatkan. Jelaslah wi-fi memang menyenangkan tapi juga mengganggu.

Pesawat ini terbang dari Dubai pukul 08.00 pagi. Sebelum boarding saya sarapan dulu. Banyak-banyak: toh gratis. Bukan itu. Ada maksud lain: agar setiba di dalam pesawat bisa langsung tidur. Saya sudah berpesan kepada pramugari Emirates asal Latvia itu agar jangan dibangunkan untuk sarapan.

Ternyata begitu duduk di pesawat saya didatangi pramugari yang lain: dia bertanya apakah saya akan mandi dulu. Masih sempat. Pesawat ini dilengkapi beberapa kamar mandi. Ini pesawat komersial terbesar yang pernah ada: Airbus A380.

Saya sudah mandi di bandara sebelum sarapan. Saya bisa langsung tidur. Ingin tidur empat jam sebagai ganti kurang tidur di bandara Dubai semalam. Kan ada pertandingan antara Jerman dan Pantai Gading yang mendebarkan itu: babak pertama, ups, Jerman kalah 0-1.

Setelah nonton sepak bola itu seharusnya sempat tidur. Sebentar. Tapi tanggung. Satu jam kemudian harus tampil live di podcast Dismorning.