Di samping untuk balas dendam, tidur empat jam di awal penerbangan itu sebagai perencanaan manajemen jet-lag. Perbedaan waktu 12 jam antara New York Jakarta bisa membuat mata terbalik: ngantuk di waktu siang, memicing di waktu malam.
Saya akan mendarat di bandara John F. Kennedy pukul 14.00. Kalau tidurnya empat jam di akhir penerbangan bisa-bisa malam pertama di New York tidak bisa tidur. Kancilen. Jet-lag. Lalu, besok paginya ngantuk tidak ketulungan.
Bangun dari tidur empat jam saya pun memotret layar TV di depan kursi. Fotonya saya kirim ke Lia yang nekat akan menjemput saya di bandara. Di situ semuanya terbaca: posisi terbang saya sedang di mana dan berapa jam lagi mendarat.
“Setelah mendarat nanti bapak istirahat dulu. Saya minta izin sebentar untuk kebaktian,” tulis Lia yang baru saja ditinggal suami tercinta, James F. Sundah, pencipta lagu Lilin-lilin Kecil itu.
“Saya ikut kebaktian,” jawab saya.
“Serius?”
“Iya. Serius”.
Saya tidak mau istirahat. Pasti ketiduran. Bahaya. Manajemen jet-lag bisa gagal. Lebih baik ikut kebaktian. Ikut saja. Sekalian sebagai pertanda saya ikut berduka atas meninggalnya pejuang hak cipta lagu Indonesia itu.
Pokoknya kantuk New York di pukul 14.00 itu harus saya lawan ngantuk-ngantuknya karena sama dengan jam 02.00 dini hari waktu Jakarta.
Jangan sampai, besoknya, di jam yang sama tertidur di stadion. Atau di tempat nobar. (Dahlan Iskan)