finnews.id – Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen dari sebelumnya 0,75 persen. Kebijakan tersebut menjadikan suku bunga Jepang berada di level tertinggi sejak 1995, sekaligus menandai berakhirnya era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Keputusan ini diumumkan di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Jepang, yang selama ini sangat bergantung pada impor energi seperti minyak dan gas, merasakan dampak langsung dari kenaikan harga komoditas dunia.
Langkah BOJ juga menjadi sinyal penting bahwa perekonomian Jepang mulai meninggalkan bayang-bayang deflasi yang telah membelenggu negara tersebut selama lebih dari dua dekade.
Jepang Tinggalkan Kebijakan Moneter Era Krisis
Sejak runtuhnya gelembung aset pada awal 1990-an, Jepang menerapkan kebijakan suku bunga sangat rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan melawan deflasi. Bahkan selama bertahun-tahun, suku bunga negara tersebut berada di sekitar nol persen.
Kebijakan itu diterapkan karena harga properti dan saham jatuh drastis, menyebabkan perlambatan ekonomi berkepanjangan. Namun kini, kondisi ekonomi Jepang mulai berubah.
Ekonom Jepang Jesper Koll mengatakan bahwa negara tersebut telah memasuki siklus inflasi baru.
“Setelah dua puluh tahun deflasi, Jepang kini berada dalam siklus inflasi,” ujarnya kepada BBC.
Menurutnya, kebijakan moneter darurat yang diterapkan selama bertahun-tahun tidak lagi dibutuhkan, sehingga BOJ mulai mengembalikan kebijakan moneter ke tingkat yang lebih normal.
BOJ sendiri telah memulai siklus kenaikan suku bunga sejak Maret 2024, yang saat itu menjadi kenaikan pertama dalam 17 tahun.
Lonjakan Harga Energi Jadi Pemicu Utama
Kenaikan harga energi global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi di Jepang. Konflik di Timur Tengah dan perang Iran telah meningkatkan biaya impor energi bagi banyak negara, termasuk Jepang.