Finnews.id – Lifestyle Bagi warga megapolitan Jakarta hari ini, Pasar Minggu barangkali lebih melekat dengan citra kawasan yang sibuk, padat, dan menjadi salah satu simpul transportasi utama di wilayah Jakarta Selatan.

Namun, jika kita memutar kembali roda waktu ke beberapa abad yang lalu, kawasan ini merupakan bentangan alam hijau yang tenang dan memegang peranan krusial dalam rantai pasokan logistik pangan ke pusat kota Batavia.

Melacak Jejak Sejarah Abad ke-18: Menguak Tirai Asal-Usul Nama Kawasan Pasar Minggu di Jakarta

Pemberian nama “Pasar Minggu” sendiri bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan buah dari sistem penaggalan ekonomi tradisional yang diterapkan oleh masyarakat pribumi dan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada masa lampau.

Dari Sistem “Pasar Berputar” hingga Monopoli Hari Minggu

Pada masa pemerintahan VOC sekitar abad ke-17 dan ke-18, aktivitas perdagangan di pinggiran Batavia diatur berdasarkan sistem hari pasaran yang bergilir. Hal ini kemiripannya dengan tradisi pasar pasaran di tanah Jawa (seperti Pon, Wage, Kliwon). Untuk wilayah Batavia dan sekitarnya, nama-nama pasar disesuaikan dengan nama hari masehi tempat transaksi tersebut diperbolehkan beroperasi.

Kawasan yang kini kita kenal sebagai Pasar Minggu, pada awalnya didirikan sebagai lokasi perniagaan yang hanya diizinkan buka pada hari Minggu.
Strategi pergiliran ini sengaja dibuat agar para petani dan pedagang keliling dari wilayah hulu (seperti Bogor dan Depok) tidak menumpuk di satu tempat pada hari yang sama, melainkan menyebar ke wilayah lain seperti Pasar Senen, Pasar Rebo (Rabu), atau Pasar Kamis (Tanah Abang).

Surga Agrikultur dan Lumbung Buah Terbesar Batavia

Selain waktu operasionalnya, keunikan utama Pasar Minggu pada era kolonial adalah komoditas utamanya. Berbeda dengan Pasar Tanah Abang yang kuat di sektor tekstil, Pasar Minggu tumbuh di pinggiran kota sebagai lumbung agrikultur. Berkat tanahnya yang subur di sepanjang aliran Sungai Ciliwung, kawasan sekitarnya bertransformasi menjadi perkebunan buah-buahan lokal yang masif.