finnews.id – Bedak talkum atau talkum powder telah digunakan selama puluhan tahun dalam berbagai produk perawatan tubuh. Banyak orang mengenalnya sebagai bedak bayi, padahal bahan ini juga ditemukan pada bedak tubuh, kosmetik, hingga beberapa produk farmasi.

Selama bertahun-tahun talkum dianggap aman digunakan. Namun, sejumlah penelitian dan evaluasi lembaga kesehatan internasional menunjukkan bahwa penggunaan talkum tidak sepenuhnya bebas risiko. Bahaya yang paling jelas berkaitan dengan saluran pernapasan, sementara risiko lain yang masih terus diteliti adalah kaitannya dengan kanker tertentu.

Apa Itu Talkum?

Talkum adalah mineral alami yang tersusun dari magnesium, silikon, dan oksigen. Setelah ditambang, mineral ini dihaluskan menjadi bubuk sangat lembut yang mampu menyerap kelembapan dan mengurangi gesekan pada kulit.

Karena sifatnya tersebut, talkum banyak digunakan dalam:

  • Bedak bayi
  • Bedak tubuh
  • Produk kosmetik
  • Produk perawatan kulit
  • Beberapa produk farmasi

Meski terlihat sederhana, partikel talkum yang sangat halus dapat menimbulkan risiko tertentu jika terhirup atau digunakan dalam kondisi tertentu.

Risiko Gangguan Pernapasan akibat Partikel Talkum

Salah satu bahaya talkum yang paling diakui oleh komunitas medis adalah risiko gangguan pernapasan akibat menghirup partikel bedak.

Saat bedak ditaburkan, sebagian partikel dapat melayang di udara dan masuk ke hidung maupun paru-paru. Pada bayi, anak-anak, lansia, atau orang yang memiliki penyakit pernapasan, kondisi ini dapat memicu:

  • Batuk
  • Iritasi saluran napas
  • Sesak napas
  • Peradangan paru-paru

Paparan dalam jumlah besar dan berulang bahkan dapat menyebabkan gangguan paru yang dikenal sebagai talc pneumonitis atau peradangan paru akibat partikel talkum. Karena alasan inilah para ahli kesehatan menyarankan agar bedak tidak ditaburkan langsung ke wajah atau area dekat hidung.

Mengapa Talkum Dikaitkan dengan Risiko Kanker?

Pada tahun 2024, badan penelitian kanker di bawah WHO, yaitu International Agency for Research on Cancer, mengklasifikasikan talkum sebagai “kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia” atau Group 2A.

Klasifikasi tersebut tidak berarti setiap pengguna talkum akan terkena kanker. Sebaliknya, klasifikasi itu menunjukkan bahwa bukti ilmiah yang tersedia telah cukup kuat untuk menimbulkan kekhawatiran dan memerlukan kewaspadaan.

Penilaian tersebut didasarkan pada kombinasi: