Kunjungan terakhir hari itu ke pabrik es krim. Anda sudah tahu namanya. Terbesar di Indonesia mengalahkan produk multinational corporation: Aice. Yang saya tidak sangka: perusahaan es krim ini ternyata perusahaan Singapura.

“Apakah Aice juga menguasai pasar es krim di Singapura?”

“Tidak,” ujar General Affair Manager Aice Liu Shen Dong. Ia belum bisa berbahasa Indonesia. Ia asli Hunan, Tiongkok. Penerjemahnya bernama Moch. Sholeh: lulusan pondok pesantren Nurul Jadid yang kuliahnya di Hangzhou. “Aice tidak dijual di Singapura,” tambahnya.

Ini mirip dengan pabrik baja Mittal dari India. Pabrik pertamanya dibangun di Sepanjang, Sidoarjo, lalu berkembang ke seluruh dunia, menjadi salah satu pabrik baja terbesar sejagad.

Pun Aice, meski baru didirikan di Indonesia tahun 2015, kini sudah merajalela ke berbagai negara. Pabrik ini sehari bisa menerima 10 delegasi tur dari berbagai sekolah. Kuota tahun ini sudah penuh. Harus antre untuk kunjungan tahun depan.

Di akhir kunjungan delegasi dari mana pun dimampirkan ke satu ruang icip-icip yang luas. Semua boleh makan es krim sepuasnya selama 30 menit. Bebas pilih: yang rasa apa saja.

Hanya rombongan kami yang icip-icipnya di ruang khusus dan rasa yang bisa diicip lebih banyak sampai orang seperti saya menyesal menjadi tua. (Dahlan Iskan)