Bung Karno lahir di mana?

Buku sejarah di sekolah menyebutkan BK lahir di Surabaya.

Konotasinya, kata ”Surabaya” di situ adalah kota Surabaya sekarang. Padahal secara administrasi yang dimaksud Surabaya zaman itu meliputi Surabaya sampai Mojokerto dan Jombang.

Galeri ini tidak terasa museum karena hanya menggunakan ruang-ruang kelas yang ada: lima kelas. Materi yang dipajang sebenarnya cukup baik: perjalanan BK sejak di dalam kandungan, dilahirkan sampai sekolah di situ.

Ada juga miniatur karya-karya monumental BK yang dipajang terbaik di langit-langit ruangan: Monas, masjid Istiqlal, gedung DPR-MPR, Hotel Indonesia, dan patung Pancoran.

Lalu ada lukisan unik terbuat dari benang hitam yang ditarik ke segala arah yang kalau dilihat dari sisi lain ruang itu tergambar wajah Bung Karno. Saya pelototi siapa pelukisnya: tidak ketemu.

Di ruang terakhir dipajang bangku-bangku SD zaman dulu. Salah satunya terlihat jauh lebih tua. Itulah salah satu bangku asli yang ditemukan yang bisa saja pernah dipakai BK kecil.

Endang Pudjiastutik, kepala sekolah sekarang ini lantas meraih lengan saya. Dia ingin menunjukkan benda bersejarah yang dia temukan: papan tulis asli yang dipakai di kelas BK saat itu.

Kata Bu Endang, saat ditemukan papan itu tertanam di tembok. Papan tulis ini terdiri dari tiga bidang yang ukurannya sama. Bidang kiri dan kanan bisa dilipat menutup bidang yang tengah. Ada engselnya.

Dua anak SD kelas lima sudah bisa jadi tour guide. Mereka dilatih menjaga tiap pajangan dan bisa menjelaskan apa yang ada di pajangan itu.

Saya tidak menyangka ada museum khusus masa sekolah di saat BK masih kecil. Bu Endang tidak hanya menemukan papan tulis, dia juga menulis buku tentang BK di sekolah itu.

Yang punya inisiatif membangun galeri itu Ning Ita, wali kota Mojokerto yang juga ketua PC Muslimat NU setempat. Bu Mega yang meresmikannya. Ning Ita pun maju lagi jadi wali kota Mojokerto yang untuk periode kedua diusung oleh PDI-Perjuangan sebelum akhirnya pindah ke perahu Gerindra.

Dari Ning Ita kami ke pabrik etanol, PT Energi Agro Nusantara (Enero). Pabrik itu akhirnya, tiga tahun terakhir, berlaba besar setelah lima tahun selalu merugi. Pimpinan barunya, Puji Setiyawan pemberani: membuat kabinet barunya langsing, melakukan efisiensi, memotong besar gaji semua manajernya dimulai dari memotong gajinya sendiri sebagai direktur tunggal. Orangnya energik dan penampilannya tidak seperti bos anak perusahaan BUMN. Danantara beruntung punya pimpinan perusahaan seperti itu lima tahun lalu.