​Jika basis data (database) perusahaan yang menyimpan cetakan wajah (face template) Anda diretas, data biometrik tersebut bisa jatuh ke tangan kriminal siber selamanya.

​Sekali data wajah Anda bocor, data tersebut bisa disalahgunakan untuk pemalsuan identitas di platform lain.

​4. Pemaksaan Akses Tanpa Persetujuan (Coercion)

​Seseorang bisa dengan mudah membuka ponsel Anda secara paksa hanya dengan mengarahkan layar ke wajah Anda saat Anda sedang lengah, ditahan, atau bahkan saat Anda sedang tidur (jika fitur “harus membuka mata” tidak diaktifkan).

Bandingkan dengan PIN atau password, di mana tidak ada orang yang bisa memaksa isi kepala Anda untuk menyebutkan kombinasi angka tersebut dengan mudah.

​5. Diskriminasi dan Akurasi Algoritma

​Algoritma pengenalan wajah dilatih menggunakan sekumpulan data (dataset). Jika data pelatihan tersebut kurang bervariasi, sistem sering kali mengalami bias atau penurunan akurasi pada:

  • ​Kondisi pencahayaan yang buruk (terlalu gelap atau terlalu terang).
  • ​Perubahan fisik (penggunaan kacamata hitam, masker, makeup tebal, atau adanya cedera di wajah).
  • ​Ras atau warna kulit tertentu, yang terkadang memicu error (gagal mengenali pemilik asli).

Tips Meminimalkan Risiko

​Jika Anda tetap ingin menggunakan otentikasi wajah, pastikan Anda melakukan langkah-langkah keamanan ini:

​Aktifkan Fitur Deteksi Perhatian: Pastikan fitur seperti “Require Attention” aktif, sehingga sistem hanya akan terbuka jika mata Anda terbuka dan menatap layar.

​Gunakan sebagai Lapisan Kedua: Jangan gunakan otentikasi wajah untuk aplikasi krusial seperti m-banking atau dompet digital jika perangkat Anda hanya mendukung pemindaian 2D. Gunakan PIN/Password yang kuat atau pemindai sidik jari (fingerprint) yang relatif lebih sulit dipalsukan lewat foto.