Karena itu di PLN ada SOP kontrol transmisi. Utamanya kontrol gardu induk. Kenapa gardu induk perlu lebih sering dikontrol? Anda sudah tahu jawabnya: di situlah terjadi sambungan konduktor terbanyak.
Cara inspeksinya pun Anda sudah tahu: pakai kamera infrared. Setiap sambungan dibidik: apakah suhunya lebih tinggi dari sekitarnya. Kalau perbedaan suhu di sambungan itu tinggi sudah waktunya ada pemeliharaan.
Tentu membawa ”stetoskop” seperti itu ke transmisi 275 kv tidak semudah ke gardu induk. Tinggi tower listrik 275 kv sekitar 30 meter. Tinggi kabel di tengah antara dua tower bisa 18 meter. Lokasinya pun kadang di gunung. Kadang di hutan. Tapi kini sudah tertolong oleh teknologi: drone. Sudah waktunya PLN membeli banyak drone berkamera infrared.
Jangan-jangan sekarang pun PLN sudah memilikinya hanya mungkin belum merata sampai Sumatera.
Putus kabel tidak seperti putus cinta: hanya dua yang menderita. Putusnya konduktor tegangan tinggi ibarat tekanan darah tinggi: merembet ke mana-mana. Meski yang putus konduktor antara Jambi-Riau yang menderita empat provinsi. Ini antara lain karena tidak imbangnya pasok listrik di Sumatera.
Sumber listrik terbesar di Sumatera adalah dari Sumsel. Anda sudah tahu kenapa: Sumsel kaya batu bara. Sebagian listrik untuk Sumatera Utara-Aceh-Riau dikirim dari Sumsel: lewat transmisi 275 kv. Transmisi ini ibarat jalan tol listrik.
Di zaman Orde Baru ”jalan tol” ini dibangun antara Lampung-Sumbar-Sumut lewat sisi barat Sumatera. Zaman itu Sumatera sisi timur belum berkembang.
Belakangan, wilayah Riau-Jambi berkembang jauh lebih pesat dari sisi barat. Keperluan listriknya meningkat drastis. Maka di suatu masa yang Anda sudah bisa menduga diputuskanlah untuk membangun ”jalan tol listrik” yang lebih besar di sisi timur Sumatera.
Kalau transmisi di sisi barat 275 kv, yang di sisi timur itu 500 kv –bisa mengangkut listrik hampir dua kali lipatnya.
Dengan demikian Sumatera punya dua ”jalan tol”: dua lajur di sisi barat, empat lajur di sisi timur. Dua-duanya sama: dari Lampung sampai Aceh –hanya saja sebagian belum jadi.