finnews.id – Para pecinta game di seluruh dunia nampaknya harus merogoh kocek lebih dalam tahun ini. Dua raksasa industri, Sony dan Nintendo, kini tengah berjuang menghadapi badai ekonomi akibat melonjaknya harga komponen memori.
Menariknya, biang kerok utama dari fenomena ini bukanlah dari industri game itu sendiri, melainkan ledakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang menyedot pasokan chip global.
Kenaikan harga chip memori bahkan tercatat melipat ganda hanya dalam kuartal pertama tahun ini. Tren ini diprediksi akan terus merangkak naik hingga 63 persen pada kuartal berjalan.
Mengapa ini terjadi? Permintaan pusat data AI yang masif telah membatasi ketersediaan memori untuk perangkat lain seperti ponsel pintar, laptop, hingga konsol game kesayangan Anda.
Harga Switch 2 dan PS5 Resmi Naik
Kabar kurang sedap datang bagi Anda yang menantikan konsol terbaru. Presiden Nintendo, Shuntaro Furukawa, mengonfirmasi bahwa biaya komponen yang membengkak serta faktor nilai tukar memaksa perusahaan untuk menaikkan harga Switch 2.
Di pasar Jepang, harga Switch 2 akan melonjak 10.000 yen menjadi 59.980 yen. Sementara itu, konsumen di Amerika Serikat harus membayar $50 lebih mahal, sehingga harganya menyentuh angka $499,99. Langkah ini diambil agar profitabilitas perusahaan tetap stabil dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.
Tak mau kalah, Sony juga sudah lebih dulu mengambil langkah serupa. Pada Maret lalu, Sony mengumumkan kenaikan harga PS5 versi standar sebesar $100, yang kini dibanderol seharga $649,99 di Negeri Paman Sam.
Tekanan Berat Bagi Produsen Elektronik
Analis HSBC, Kazunori Ito, menilai situasi ini sudah masuk dalam kategori darurat.
“Fakta bahwa Nintendo merasa perlu bertindak (menaikkan harga) menunjukkan bahwa kenaikan biaya memori telah menjadi cukup parah sehingga tidak dapat lagi diserap secara internal – dan, yang terpenting, bahwa prospek tekanan biaya tersebut mereda dalam waktu dekat sangat kecil,” kata analis HSBC, Kazunori Ito.
Meskipun produsen chip besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron berencana mengucurkan investasi miliaran dolar untuk menggenjot produksi, para ahli memperkirakan butuh waktu setidaknya satu tahun agar pasokan kembali normal.