finnews.id – Setelah melewati perdebatan politik yang sengit selama berbulan-bulan, Parlemen Taiwan akhirnya menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) pengeluaran pertahanan senilai US$25 miliar pada Jumat, 8 Mei 2026.
Dana jumbo ini akan difokuskan sepenuhnya untuk pengadaan berbagai alutsista canggih dari Amerika Serikat.
Keputusan ini muncul sebagai titik tengah dari perselisihan panjang mengenai strategi penguatan militer pulau tersebut dalam menghadapi ancaman dari China.
Anggaran Disetujui di Bawah Usulan Pemerintah
Ketua Parlemen mengumumkan hasil pemungutan suara final setelah sesi yang alot. Meski angka US$25 miliar (sekitar NT$780 miliar) terdengar fantastis, jumlah ini sebenarnya jauh lebih rendah daripada usulan awal pemerintahan Presiden Lai Ching-te yang mencapai hampir US$40 miliar (NT$1,25 triliun).
Koalisi oposisi yang terdiri dari Partai Kuomintang (KMT) dan Partai Rakyat Taiwan (TPP) memegang kendali parlemen. Dari 107 anggota yang hadir, sebanyak 59 suara mendukung proposal anggaran yang fokus pada pembelian senjata dari Negeri Paman Sam tersebut.
Mengapa Hanya Membeli Senjata Amerika Serikat?
Perdebatan utama di parlemen berpusat pada sumber pengadaan alutsista. Pemerintah sebelumnya menginginkan dana tersebut juga mencakup pengembangan drone buatan dalam negeri dan senjata produksi lokal lainnya. Namun, pihak oposisi bersikeras membatasi dana khusus ini hanya untuk produk militer AS.
“Jika kita membatasi diri hanya pada pembelian senjata AS, maka jika suatu hari Taiwan dikepung atau diblokade, bagaimana kita akan mempertahankan pasokan amunisi dan kapasitas tempur kita?” kritik Chen Kuan-ting, anggota parlemen dari Partai Progresif Demokratik (DPP).
Di sisi lain, perwakilan KMT, Hsu Chiao-hsin, menegaskan bahwa partainya mendukung peningkatan pertahanan yang wajar namun keberatan dengan penggabungan metode pengadaan antara penjualan senjata resmi, pembelian komersial, dan produksi berdasarkan pesanan.
Daftar Senjata Canggih yang Akan Dibeli Taiwan
Anggaran ini akan mendanai sejumlah kontrak senjata penting yang sebelumnya telah mendapatkan lampu hijau dari Washington. Beberapa alutsista utama yang menjadi prioritas meliputi: