finnews.id – Serangan siber berskala internasional menyebabkan platform pembelajaran digital Canvas mengalami gangguan luas dan memicu kekacauan di ribuan institusi pendidikan. Sistem yang digunakan oleh universitas dan sekolah di Amerika Serikat, Kanada, hingga Australia ini dilaporkan tidak dapat diakses dalam periode krusial akhir tahun akademik.
Gangguan ini tidak hanya berdampak pada aktivitas belajar mengajar harian, tetapi juga mengacaukan jadwal ujian akhir, pengumpulan tugas, hingga proses evaluasi akademik. Sejumlah institusi bahkan terpaksa menunda ujian demi memberi waktu bagi mahasiswa untuk memulihkan pekerjaan yang terdampak.
Platform Canvas sendiri dikelola oleh perusahaan teknologi pendidikan Instructure, yang dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa layanan sempat tidak stabil sebelum kembali pulih sebagian untuk mayoritas pengguna. Namun, sejumlah kampus masih melaporkan gangguan lanjutan pada hari berikutnya.
Skala Serangan Menjangkau Ribuan Institusi Pendidikan
Laporan awal menyebutkan bahwa sekitar 9.000 institusi pendidikan terdampak oleh insiden ini. Universitas Sydney termasuk salah satu yang mengonfirmasi gangguan serius, dengan pihak kampus meminta mahasiswa untuk tidak mencoba masuk ke sistem sementara waktu.
Dalam pernyataan resmi, universitas tersebut menegaskan bahwa mereka merupakan salah satu dari ribuan institusi yang terdampak secara global dan masih menunggu informasi teknis lebih lanjut dari pihak pengelola platform.
Sementara itu, Mississippi State University mengambil langkah lebih tegas dengan menunda ujian akhir yang seharusnya berlangsung pada hari gangguan terjadi. Keputusan ini diambil untuk mengurangi dampak terhadap mahasiswa yang tidak dapat mengakses materi pembelajaran dan tugas penting.
Dugaan Keterlibatan Kelompok Peretas Internasional
Kelompok peretas yang dikenal dengan nama ShinyHunters dikabarkan mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok ini sebelumnya juga dikaitkan dengan berbagai insiden kebocoran data besar di sektor teknologi dan perusahaan global.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi teknis independen yang sepenuhnya memverifikasi klaim tersebut. Pihak berwenang dan perusahaan terkait masih melakukan investigasi untuk memastikan sumber dan metode serangan yang digunakan.
Serangan ini menunjukkan pola yang semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir, di mana infrastruktur digital pendidikan menjadi target empuk karena ketergantungan tinggi terhadap sistem daring.