Strategi Bertahan di Tengah Krisis Pasokan
Menghadapi tantangan ini, Sony dan Nintendo menerapkan strategi yang berbeda:
-
Nintendo: Selain menaikkan harga perangkat, mereka juga menaikkan tarif layanan game online. Nintendo kini dituntut untuk merilis lebih banyak game blockbuster seperti “Pokemon Pokopia” atau “Star Fox” guna menjaga minat beli konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.
-
Sony: Meski memprediksi penjualan perangkat keras akan sedikit menurun, Sony mengincar keuntungan lebih tinggi dari sektor perangkat lunak. Peluncuran game legendaris “Grand Theft Auto VI” (GTA VI) pada November mendatang diharapkan menjadi mesin uang utama bagi ekosistem Sony.
CEO Sony, Hiroki Totoki, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengamankan pasokan memori untuk tahun ini, namun harga kemungkinan akan tetap tinggi hingga tahun depan. Saat ini, Sony fokus mencari celah untuk menekan biaya operasional di luar komponen memori.
Risiko bagi Pengguna Kasual
Pakar industri dari Kantan Games, Serkan Toto, memberikan catatan khusus bagi Nintendo. Karena basis pengguna Nintendo banyak berasal dari kalangan kasual, kenaikan harga ini bisa menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan konten game yang menarik.
“Nintendo sekarang berada di bawah tekanan lebih besar dari sebelumnya untuk merilis lebih banyak game blockbuster pihak pertama pada tahun fiskal ini” untuk meningkatkan permintaan sistem tersebut, kata Toto.
Situasi ini menjadi pengingat bagi kita bahwa perkembangan teknologi AI yang begitu pesat ternyata memiliki efek domino yang nyata hingga ke ruang keluarga para gamer.
Dengan rantai pasok yang masih terganggu dan tensi geopolitik global, industri elektronik nampaknya masih harus menempuh jalan terjal sepanjang tahun 2026 ini.