“Seperti yang telah saya katakan berulang kali, kami akan mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan spekulatif, sesuai dengan pernyataan yang ditandatangani antara Jepang dan Amerika Serikat tahun lalu,” tegas Katayama.
Meskipun demikian, Jeremy Stretch dari CIBC Capital Markets menilai Jepang masih menghadapi tantangan besar. Selama imbal hasil obligasi AS tetap tinggi di angka 4,4 persen dan harga minyak belum turun jauh dari $100, upaya menstabilkan Yen akan terus menemui jalan terjal.
Performa Mata Uang Lain: Euro dan Poundsterling Menguat
Melemahnya greenback menjadi berkah bagi mata uang Eropa dan Australia. Berikut rincian penguatannya:
-
Euro: Naik tajam 0,8 persen ke level $1,1785.
-
Poundsterling: Diperdagangkan menguat pada posisi $1,364.
-
Dolar Australia: Mencapai level tertinggi dalam empat tahun di posisi $0,726 setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini.
Kini, perhatian para pelaku pasar tertuju pada rilis data non-farm payrolls AS akhir pekan ini. Data tenaga kerja tersebut akan menjadi penentu apakah ekonomi Amerika masih cukup tangguh untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve atau justru membuka pintu bagi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.