Untuk posisi kas, bank ini mengantongi Rp4,16 triliun. Di sisi lain, total utang jangka pendek tercatat cukup besar di angka Rp298,53 triliun, sedangkan utang jangka panjang mencapai Rp10,61 triliun.

Struktur ini tercermin dalam rasio leverage yang relatif tinggi, dengan debt to equity ratio sebesar 5,23 dan debt to total capital mencapai 0,84.

Rasio Profitabilitas Masih Rendah

Meskipun mencetak laba, rasio profitabilitas BNGA masih tergolong rendah. Return on Assets (ROA) berada di level 0,48%, sedangkan Return on Equity (ROE) sebesar 2,99%.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan dari aset dan modalnya masih terbatas.

Valuasi Saham: PBV di Bawah 1x

Dari sisi valuasi, saham BNGA diperdagangkan pada harga Rp1.685 per lembar dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp41,94 triliun.

Beberapa indikator valuasi utama antara lain:

– Price to Earnings Ratio (PER): 23,77x
– Price to Book Value (PBV): 0,71x
– Earnings per Share (EPS): Rp70,88
– Book Value per Share (BVPS): Rp2.373,01

PBV yang berada di bawah 1x menunjukkan bahwa pasar masih memberikan valuasi konservatif terhadap saham BNGA, meskipun fundamentalnya relatif stabil.

Kesimpulan: Stabil di Tengah Tekanan

Secara keseluruhan, kinerja BNGA pada kuartal pertama 2026 mencerminkan kondisi yang stabil namun penuh tantangan. Penurunan pendapatan menjadi faktor utama yang menekan laba bersih.

Meski begitu, efisiensi operasional dan margin yang kuat berhasil menjaga profitabilitas tetap positif. Ke depan, kemampuan bank dalam mendorong pertumbuhan pendapatan akan menjadi kunci untuk memperbaiki kinerja secara keseluruhan. (*)