Ketegangan semakin tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Kini, kawasan tersebut berubah menjadi titik paling sensitif dalam rantai pasok energi dunia.
Analis dari Eurasia Group bahkan memperingatkan bahwa harga minyak bisa bertahan di atas USD100 per barel jika tidak ada kesepakatan untuk membuka kembali jalur tersebut. Mereka juga memprediksi harga bensin di Amerika bisa mencapai USD5 per galon pada Juni.
Serangan ke Kapal Tambah Ketidakpastian
Iran diduga menyerang sedikitnya empat kapal di kawasan Teluk, termasuk kapal milik Korea Selatan dan UEA. Pemerintah Korea Selatan melaporkan adanya ledakan dan kebakaran pada kapal yang dioperasikan HMM di Selat Hormuz.
Selain itu, UEA menuduh Iran menyerang kapal tanker kosong milik ADNOC menggunakan drone saat melintasi selat tersebut.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga menerima laporan insiden kapal kargo di sekitar 36 mil laut utara Dubai, serta insiden lain di wilayah UEA pada hari yang sama.
OPEC+ Naikkan Produksi, Tapi Pasar Tetap Cemas
Di tengah situasi panas ini, negara-negara produsen minyak mencoba meredam gejolak. OPEC dan sekutunya dalam OPEC+ sepakat meningkatkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari pada Juni untuk tujuh negara anggota.
Langkah ini menjadi kenaikan produksi ketiga secara berturut-turut. Namun, pasar masih menilai tambahan pasokan tersebut belum cukup untuk mengimbangi risiko gangguan distribusi akibat konflik.
Sementara itu, Menteri Energi UEA menegaskan komitmen negaranya untuk tetap memenuhi kebutuhan pasar global tanpa pembatasan, sekaligus terus bekerja sama dengan produsen minyak lainnya.
Pasar Energi Masih Dibayangi Ketidakpastian
Meski ada upaya stabilisasi dari berbagai pihak, pasar energi global masih bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian. Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutu di kawasan Teluk berpotensi memicu lonjakan harga lanjutan.
Selama Selat Hormuz belum sepenuhnya aman, risiko terhadap pasokan energi dunia tetap tinggi. Inilah yang membuat pelaku pasar terus waspada terhadap setiap perkembangan terbaru di kawasan tersebut. (*)
- analisis kenaikan minyak brent dan wti 2026
- dampak serangan iran terhadap harga minyak dunia
- geopolitik energi
- harga minyak dunia
- Headline
- Iran
- kondisi selat hormuz terhadap pasokan energi global
- konflik Timur Tengah
- krisis minyak
- minyak Brent
- OPEC
- pasar energi global
- pengaruh geopolitik terhadap harga energi global terbaru
- penyebab harga minyak naik akibat konflik iran teluk
- proyeksi harga minyak dunia setelah konflik timur tengah
- Selat Hormuz
- WTI