Home Market Harga Minyak Dunia Meledak 6 Persen: Krisis Timur Tengah & Stok AS Menyusut Picu Alarm Global
Market

Harga Minyak Dunia Meledak 6 Persen: Krisis Timur Tengah & Stok AS Menyusut Picu Alarm Global

Bagikan
Harga minyak melonjak 6% akibat krisis Timur Tengah dan stok AS anjlok. Pasar global kini dibayangi risiko pasokan.
Ilustrasi - Platform minyak lepas pantai (Pexels - Jan-Rune Smenes Reite)
Bagikan

finnews.id – Harga minyak dunia melonjak tajam dan memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Dalam perdagangan terbaru, lonjakan lebih dari 6% membawa harga ke level tertinggi dalam beberapa pekan, dipicu kombinasi krisis geopolitik dan menyusutnya pasokan.

Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Pasar merespons situasi yang semakin kompleks, mulai dari kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran hingga turunnya cadangan minyak Amerika secara signifikan.

Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi, Tembus USD120

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melonjak USD6,77 atau sekitar 6,1% ke posisi USD118,03 per barel. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak akhir Maret. Bahkan setelah penutupan, harga masih melanjutkan kenaikan hingga menyentuh USD120 per barel—level yang terakhir terlihat sejak pertengahan 2022.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut melesat. Kontrak Juni naik USD6,95 atau 7% menjadi USD106,88 per barel, menandai posisi tertinggi sejak awal April.

Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global yang semakin ketat, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Kebuntuan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Kegagalan mencapai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dari Timur Tengah bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump meminta perusahaan minyak domestik mencari solusi untuk mengurangi dampak jika blokade terhadap pelabuhan Iran berlangsung berbulan-bulan.

Kondisi ini memperkuat sentimen negatif di pasar energi global. Perhitungan menunjukkan lebih dari USD50 miliar pasokan minyak mentah telah hilang sejak konflik Iran dimulai hingga pertengahan April.

Analis Haitong Futures, Yang An, menilai bahwa jika blokade diperpanjang, gangguan pasokan akan semakin parah dan mendorong harga minyak terus naik.

Stok Minyak AS Anjlok Tajam, Pasokan Kian Ketat

Tekanan harga juga datang dari dalam negeri Amerika Serikat. Data dari Energy Information Administration menunjukkan cadangan minyak mentah turun lebih dari 6 juta barel hanya dalam satu pekan.

Bagikan
Artikel Terkait
BRI catat laba Rp15,63 triliun di awal 2026, didorong kredit tumbuh dan pendapatan bunga yang tetap kuat.
Market

Laba BBRI Melonjak! Tembus Rp15,63 Triliun di Awal 2026, Ini Strategi di Baliknya

finnews.id — Bank BRI [idx: BBRI] kembali menunjukkan tajinya di industri perbankan...

Market

Pemerintah Batasi Impor 6 Komoditas Ini, Demi Lindungi Petani Lokal

finnews.id – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi mengeluarkan aturan baru terkait pembatasan...

Morning News Summary 30 April 2026: Wall Street datar, minyak tembus USD120, dan IHSG tertekan sentimen global.
Market

Morning News Summary 30 April 2026: Wall Street Lesu, Minyak Meledak, Saham Teknologi Jadi Penyelamat

finnews.id – Morning News Summary 30 April 2026 menghadirkan gambaran pasar global...

Kinerja Jasa Marga Q1 2026 solid, pendapatan naik 10,4% dan laba Rp774,7 miliar, ditopang bisnis tol dan ekspansi
Market

Kinerja Jasa Marga Q1 2026 Ngebut: Pendapatan Tumbuh Dua Digit, Laba Capai Rp774,7 Miliar

finnews.id – PT Jasa Marga (Persero) Tbk memulai tahun 2026 dengan catatan...