Home Market Harga Minyak Dunia Meledak 6 Persen: Krisis Timur Tengah & Stok AS Menyusut Picu Alarm Global
Market

Harga Minyak Dunia Meledak 6 Persen: Krisis Timur Tengah & Stok AS Menyusut Picu Alarm Global

Bagikan
Harga minyak melonjak 6% akibat krisis Timur Tengah dan stok AS anjlok. Pasar global kini dibayangi risiko pasokan.
Ilustrasi - Platform minyak lepas pantai (Pexels - Jan-Rune Smenes Reite)
Bagikan

Penurunan ini jauh melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan hanya sekitar 200 ribu barel. Tidak hanya minyak mentah, stok bensin dan bahan bakar distilat juga turun lebih dalam dari perkiraan.

Situasi ini menandakan pasar energi semakin ketat, terutama menjelang musim liburan musim panas di AS yang biasanya meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Permintaan Musiman Perkuat Tren Kenaikan

Permintaan energi yang meningkat secara musiman ikut memperkuat tren kenaikan harga. Analis dari RBC Capital Markets memproyeksikan harga minyak akan tetap tinggi karena permintaan meningkat di saat pasokan terbatas.

Kombinasi faktor ini menciptakan tekanan ganda: pasokan terganggu sementara konsumsi justru naik.

Selat Hormuz & Manuver Produsen Jadi Sorotan

Pasar juga mencermati perkembangan di Selat Hormuz yang masih ditutup. Abu Dhabi National Oil Company dilaporkan telah memberi tahu pelanggannya bahwa mereka dapat memuat minyak dari luar Teluk untuk bulan depan.

Langkah ini menunjukkan adanya penyesuaian jalur distribusi akibat gangguan geopolitik yang berlangsung.

Dampak Keluarnya UEA dari OPEC Mulai Terasa

Selain faktor geopolitik, dinamika organisasi produsen minyak juga ikut memengaruhi pasar. Keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC dinilai sebagai salah satu perpecahan paling signifikan dalam sejarah organisasi tersebut.

Head of Commodities Investec, Callum Macpherson, menyebut dampaknya dalam jangka pendek masih terbatas. Namun dalam jangka panjang, perubahan ini bisa mengganggu keseimbangan pasar.

Wood Mackenzie memperkirakan potensi kelebihan pasokan dapat muncul mulai 2027, yang justru bisa menekan harga di masa depan.

Kepala Analis Wood Mackenzie, Simon Flowers, menilai dampak pada 2026 kemungkinan masih minim, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka. Namun setelah periode itu, tantangan menjaga stabilitas pasar akan semakin besar.

Arah Harga Minyak Selanjutnya

Dalam jangka pendek, harga minyak berpotensi tetap tinggi. Gangguan pasokan, ketegangan geopolitik, serta penurunan stok menciptakan fondasi kuat bagi kenaikan harga.

Bagikan
Artikel Terkait
Saham BBRI turun 16% YTD, BRI tegaskan penyebabnya faktor global, bukan fundamental perusahaan.
Market

Saham BBRI Anjlok 16% YTD, BRI Buka Suara: Bukan Karena Kinerja, Ini Biang Keroknya!

Menurut Hery, kebijakan ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah...

Holding ultra mikro BRI dorong lonjakan laba dan inklusi keuangan lewat sinergi Pegadaian dan PNM.
Market

Strategi Ultra Mikro BRI Meledak! Pegadaian dan PNM Jadi Mesin Laba Baru

Tak berhenti di situ, BRI juga ikut membiayai sekitar 3 juta rumah...

BRI catat laba Rp15,63 triliun di awal 2026, didorong kredit tumbuh dan pendapatan bunga yang tetap kuat.
Market

Laba BBRI Melonjak! Tembus Rp15,63 Triliun di Awal 2026, Ini Strategi di Baliknya

Direktur Utama BRI menegaskan bahwa kinerja ini tidak lepas dari disiplin perusahaan...

Market

Pemerintah Batasi Impor 6 Komoditas Ini, Demi Lindungi Petani Lokal

finnews.id – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi mengeluarkan aturan baru terkait pembatasan...