Manuver Uni Emirat Arab dan Respons Federal Reserve
Di tengah kemelut ini, pelaku pasar juga sedang mencerna keputusan mengejutkan dari Uni Emirat Arab (UEA). Negara tersebut berencana meninggalkan OPEC pada bulan Mei mendatang.
Keluarnya UEA membawa pergi sekitar 12% kapasitas produksi blok tersebut. Tanpa terikat kuota anggota OPEC, Abu Dhabi diprediksi akan meningkatkan target produksinya secara drastis dari 3,5 juta barel menjadi 5 juta barel per hari setelah krisis Hormuz mereda.
Di sisi lain, perhatian dunia juga tertuju pada Jerome Powell dalam pertemuan terakhirnya sebagai Ketua Federal Reserve. Meskipun banyak pihak bertaruh bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga, pasar tetap menantikan komentar Powell mengenai dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi akibat konflik yang berkepanjangan ini.
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan pasar, kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian di Timur Tengah masih akan menjadi penggerak utama volatilitas harga energi dalam beberapa waktu ke depan.