Home Market Bursa Pagi: Wall Street Menguat, Asing Jual Rp40,9 Triliun di Big Bank RI, PGAS hingga BUMI Jadi Sorotan
Market

Bursa Pagi: Wall Street Menguat, Asing Jual Rp40,9 Triliun di Big Bank RI, PGAS hingga BUMI Jadi Sorotan

Bagikan
Wall Street menguat, asing jual Rp40,9 triliun di saham bank RI. PGAS, DSNG hingga rencana akuisisi BUMI jadi perhatian investor
Wall Street menguat, asing jual Rp40,9 triliun di saham bank RI. PGAS, DSNG hingga rencana akuisisi BUMI jadi perhatian investor
Bagikan

finnews.id – Sentimen pasar global bergerak kontras pada awal pekan. Di satu sisi, Wall Street melanjutkan penguatan didorong optimisme terhadap laporan keuangan raksasa teknologi. Di sisi lain, pasar domestik justru menghadapi tekanan dari arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, dan rotasi portofolio besar-besaran di saham perbankan.

Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pelaku pasar menaruh perhatian besar pada arah IHSG, pergerakan rupiah, hingga saham-saham unggulan seperti PGAS, DSNG, TAPG, dan BUMI.

Wall Street Ngegas, Euforia Big Tech Redam Risiko Geopolitik

Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat meski ketegangan Timur Tengah belum menunjukkan penyelesaian jelas. Investor terlihat lebih fokus pada musim laporan keuangan emiten teknologi raksasa seperti Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple yang memiliki kapitalisasi pasar gabungan mencapai US$16 triliun.

Indeks S&P 500 naik 0,1% dan memperpanjang penguatan sepanjang April menjadi 9,9%. Catatan itu menjadi performa bulanan terbaik sejak 2020.

Penguatan Wall Street juga ditopang kabar Iran telah mengirim proposal negosiasi baru kepada Amerika Serikat. Fokus pembicaraan disebut mengarah pada pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut.

Meski konflik belum benar-benar mereda, pasar terlihat mulai mengabaikan risiko geopolitik dan lebih fokus pada prospek pertumbuhan sektor teknologi, terutama yang ditopang euforia artificial intelligence.

Pasar Asia Terbelah, Asia Utara Unggul Saat Asia Tenggara Tertekan

Perdagangan Asia dibuka mixed. Nikkei dan ASX masing-masing turun 0,4% dan 0,6%. Sebaliknya, KOSPI justru melesat 1,3% dan mencetak rekor tertinggi baru.

Fenomena ini memperlihatkan divergensi tajam di kawasan. Bursa Asia Timur seperti Korea Selatan dan Hang Seng tampil lebih solid dibanding Asia Tenggara sejak perang Amerika Serikat-Iran pecah.

Penyebabnya dinilai cukup jelas. Negara-negara Asia Tenggara sangat bergantung pada konsumsi domestik, sehingga lonjakan harga minyak menekan daya beli sekaligus membebani fiskal pemerintah.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Harga Pangan Meledak! Cabai Rawit Tembus Rp165 Ribu/Kg, Telur Ikut Meroket

finnews.id – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat...

Market

Maskapai T’way Air Buka Rute Langsung Jakarta – Incheon Mulai 29 April 2026

finnews.id – Maskapai berbiaya rendah asal Korea Selatan, T’way Air, resmi memperluas...

Harga minyak melonjak 3 persen dipicu konflik AS-Iran dan gangguan Selat Hormuz. Pasar waspadai inflasi global dan ancaman kenaikan suku bunga.
Market

Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Selat Hormuz Terganggu dan Konflik Memanas, Pasar Global Siaga

finnews.id – Lonjakan harga minyak kembali mengguncang pasar global. Di tengah mandeknya...

Market

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi, CIMB Niaga Perkuat Ketahanan Lewat Stress Test

finnews.id – Industri perbankan nasional masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan domestik....