Pendapatan segmen perkebunan mencapai Rp2,6 triliun atau naik 11%, cukup menahan pelemahan bisnis perkayuan.

TAPG Tertekan, BUMI Bikin Kejutan Akuisisi

Berbeda dengan PGAS dan DSNG, TAPG mencatat perlambatan.

Pendapatan perseroan turun 4,9% secara tahunan menjadi Rp2,49 triliun. Laba bersih juga terkoreksi 8,1% menjadi Rp740 miliar.

Sementara itu, BUMI justru menarik perhatian pasar lewat rencana akuisisi perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia, Loyal Metals, senilai US$79 juta.

Langkah ini dipandang bisa menjadi strategi diversifikasi bisnis yang berpotensi membuka sentimen baru bagi saham emiten tambang tersebut.

Investor Pantau Agenda Padat: RUPS, Dividen, dan Suku Bunga

Selain kinerja emiten, pasar juga mencermati agenda korporasi yang padat pekan ini. Sejumlah emiten seperti BJBR, BMRI, JPFA, KRAS hingga BRMS dijadwalkan menggelar RUPS.

Pasar juga menunggu cum date dividen sejumlah saham seperti PGEO, ASII dan BTPN.

Dari eksternal, perhatian tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan, data tenaga kerja AS, kepercayaan konsumen, hingga stok minyak mentah mingguan Amerika Serikat.

Agenda-agenda ini dinilai berpotensi menjadi penggerak volatilitas pasar berikutnya.

Sentimen Pasar Masih Tarik Ulur

Optimisme global dari Wall Street memang memberi napas positif. Namun tekanan rupiah, arus keluar asing, dan risiko geopolitik membuat pasar domestik masih menghadapi tarik ulur sentimen.

Di tengah kondisi itu, investor mulai menyeleksi saham berbasis fundamental kuat, terutama emiten yang mampu mencetak pertumbuhan laba di tengah tekanan eksternal.

Pergerakan pasar berikutnya kini sangat bergantung pada dua hal: arah modal asing dan apakah euforia global dari big tech mampu menular ke bursa domestik. (*)