finnews.id – Dunia keuangan kini menghadapi tantangan baru yang sangat serius. Kepala regulator sekuritas Eropa memperingatkan bahwa ancaman siber kini semakin meningkat, terutama karena perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Kecepatan serangan yang dipicu oleh AI menjadi fokus utama para pengawas keuangan saat ini.
Verena Ross, Ketua Otoritas Sekuritas dan Pasar Eropa (ESMA), mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik global ikut memperparah risiko keamanan digital. Dalam wawancara di Paris, Ross menyebut pihaknya telah menghubungi berbagai entitas keuangan untuk menilai pertahanan mereka terhadap ancaman terbaru ini.
“Kami mengamati dengan cermat bagaimana penggunaan model AI dapat meningkatkan potensi kecepatan terjadinya serangan tersebut,” tegas Ross.
Ancaman Nyata dari Model AI Baru
Bulan ini, sektor keuangan terguncang oleh laporan mengenai model AI baru bernama Mythos. Kecerdasan buatan buatan perusahaan Anthropic asal AS ini kabarnya mampu menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan sistem TI yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Kondisi ini memaksa regulator untuk bekerja ekstra keras mengejar ketertinggalan teknologi. Ross menekankan bahwa baik di tingkat nasional maupun Uni Eropa, semua pihak harus meningkatkan keahlian. Hal ini penting guna mengawasi entitas keuangan dan penyedia pihak ketiga yang krusial bagi industri.
Sebagai informasi, ESMA bersama regulator Uni Eropa lainnya telah menunjuk 19 perusahaan teknologi sebagai penyedia pihak ketiga yang penting. Langkah ini bertujuan meningkatkan ketahanan teknologi blok tersebut menghadapi serangan di masa depan.
Valuasi Tinggi dan Gejolak Pasar Global
Risiko siber ini muncul di saat pasar keuangan global sedang sangat sensitif. Ross menilai risiko keamanan digital bisa memicu penilaian ulang terhadap valuasi aset keuangan yang saat ini masih sangat tinggi.
Gejolak pasar semakin terasa setelah harga minyak melonjak akibat pecahnya perang AS dan Israel terhadap Iran. Meski pasar saham di beberapa negara mendekati titik tertinggi sepanjang masa berkat raksasa teknologi, Ross tetap waspada terhadap potensi aksi jual besar-besaran.