Home Market Saham BCA Ambruk ke Level Terendah 3 Tahun, Tertekan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Market

Saham BCA Ambruk ke Level Terendah 3 Tahun, Tertekan Rupiah dan Aksi Jual Asing

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menunjukkan tren negatif pada sesi I perdagangan Jumat (24/4). Emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia ini mengalami koreksi tajam hingga menyentuh level terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Tekanan makroekonomi dan sentimen global menjadi faktor utama yang memicu investor melepas kepemilikan saham mereka.

Berdasarkan data perdagangan bursa pukul 09.08 WIB, saham BBCA melemah 1,56 persen ke posisi Rp6.325 per lembar. Bahkan, dalam fluktuasi pagi tadi, saham ini sempat terjerembab ke level Rp6.300. Hingga jeda perdagangan, volume transaksi mencapai 34,48 juta saham dengan frekuensi 11.134 kali. Nilai transaksi total tercatat sebesar Rp220,31 miliar.

Tekanan jual yang masif menghantam emiten berkode saham BBCA ini. Mengacu pada data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan net sell atau jual bersih sebesar Rp91,6 miliar saat berita ini disusun. Angka tersebut menempatkan BBCA sebagai saham dengan nilai jual bersih tertinggi di antara emiten lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tren pelemahan ini sebenarnya telah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya. Pada tanggal 22 dan 23 April, saham BCA juga konsisten berada di zona merah dengan koreksi masing-masing sebesar 0,77 persen dan 0,39 persen. Dalam periode tersebut, investor asing sudah menarik dana dari saham BCA dengan total net sell mencapai Rp128,91 miliar dan Rp83,89 miliar.

Kondisi ini sejalan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Phintraco Sekuritas sebelumnya telah memprediksi bahwa IHSG akan melanjutkan pelemahan pada akhir pekan ini. Secara teknikal, IHSG bergerak pada rentang resistance 7.500 dan mencoba menguji level support di kisaran 7.300.

Analis Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen negatif utamanya berasal dari kondisi nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.300 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup pada level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot.

“Ini merupakan level penutupan terburuk bagi Rupiah sepanjang masa sekaligus menjadi pelemahan terdalam di kawasan Asia,” tulis tim riset Phintraco Sekuritas.

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Market

Nasib KA Siliwangi Usai Jalur Terdampak Pengikisan Tanah: Ini Penjelasan KAI Daop 2 Bandung

finnews.id – Operasional KA Siliwangi akhirnya kembali berjalan normal mulai Jumat (24/4),...

Market

Harga Sawit Tembus Rp3.010/Kg di Abdya, Petani Khawatir Pupuk Langka

finnews.id – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat pabrik...

ASII bagikan dividen Rp292 per saham. Simak jadwal cum dividen, ex dividen, hingga tanggal pembayaran lengkapnya.
Market

Dividen ASII 2026 Diumumkan! Rp292 per Saham, Catat Jadwal Pentingnya

finnews.id – Kabar menarik datang dari :contentReference[oaicite:0]{index=0} (ASII). Emiten raksasa ini resmi...

IHSG melemah 0,44% di awal sesi, rupiah ke Rp17.315 per dolar AS, tekanan global dan lonjakan minyak bayangi pasar.
Market

IHSG Dibuka Melemah 0,44 Persen, Rupiah Ambruk dan Sentimen Global Tekan Pasar Sepekan

finnews.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memerah di awal...