Pelemahan Rupiah yang sangat agresif ini melampaui estimasi pasar. Faktor eksternal seperti ketegangan di Selat Hormuz yang berlarut-larut memaksa harga minyak dunia tetap tinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan lonjakan inflasi domestik dan potensi melebarnya defisit anggaran belanja negara.
Di tengah tekanan harga saham, PT Bank Central Asia Tbk sebenarnya melaporkan kinerja keuangan yang stabil. BCA membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun pada kuartal pertama 2026 (1Q26). Angka ini tumbuh tipis 4 persen secara tahunan (year-on-year) maupun secara kuartalan (quarter-on-quarter).
Pertumbuhan laba bersih ini didorong oleh Pendapatan Non-Bunga (Non-Interest Income) yang melesat 16 persen secara tahunan, seiring kenaikan pendapatan provisi dan komisi sebesar 14 persen. Namun, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) cenderung stagnan akibat penurunan imbal hasil aset (asset yield).
Manajemen BCA juga mulai meningkatkan kewaspadaan dengan menaikkan beban provisi sebesar 23 persen pada awal tahun ini. Langkah proaktif ini diambil untuk mengantisipasi risiko makroekonomi yang memburuk serta potensi kenaikan risiko kredit di segmen konsumer, komersial, dan UMKM.
Skenario Terburuk Dampak Perang
Pihak manajemen BBCA dalam earnings call terbaru mengungkapkan skenario terburuk jika konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, semakin memanas. Jika harga minyak dunia menyentuh US$130–150 per barel dan Rupiah melemah ke kisaran Rp18.000–Rp19.000 per dolar AS, BCA memprediksi dampak signifikan terhadap operasional mereka.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan kredit (loan growth) diperkirakan akan melambat drastis menjadi low-single digit atau bahkan stagnan, jauh dari target awal di level 8-10 persen. Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berpotensi melonjak ke kisaran 3-3,2 persen, dibandingkan posisi saat ini yang masih terjaga di level 1,8 persen.
Meskipun demikian, manajemen berharap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan SRBI dapat menyokong Margin Bunga Bersih (NIM) perseroan di masa depan untuk menahan tekanan dari sisi yield kredit yang terus menyusut. Pelaku pasar kini cenderung bersikap wait and see sambil memantau kebijakan suku bunga Bank Indonesia dalam merespons depresiasi Rupiah yang kian tajam.