Home Market Ini Dampak Penerapan Strategi DMO Minyak Goreng pada Harga di Pasaran
Market

Ini Dampak Penerapan Strategi DMO Minyak Goreng pada Harga di Pasaran

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang diterapkan pemerintah terbukti mulai menunjukkan hasil dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan minyak goreng sawit (MGS) di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menilai kebijakan ini semakin efektif, terutama dalam menekan harga minyak goreng bersubsidi MinyaKita agar mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Penurunan harga MinyaKita menjadi bukti bahwa kebijakan DMO berjalan efektif dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga,” ujarnya di Jakarta.

Data menunjukkan harga MinyaKita mengalami penurunan dari Rp16.865 per liter pada Januari 2026 menjadi Rp15.949 per liter hingga pekan ketiga April 2026. Angka ini semakin mendekati HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

Di sisi lain, tren berbeda terjadi pada jenis minyak goreng lainnya:

  • Minyak goreng premium naik dari Rp21.166 menjadi Rp21.793 per liter
  • Minyak goreng curah meningkat dari Rp17.790 menjadi Rp19.486 per liter

DMO Fokus Jaga MinyaKita

Tungkot menjelaskan, terdapat tiga jenis minyak goreng sawit yang beredar di Indonesia:

  • Minyak goreng kemasan premium
  • MinyaKita (untuk masyarakat dan UMKM)
  • Minyak goreng curah untuk industri

Dari ketiga segmen tersebut, pemerintah hanya mengendalikan MinyaKita melalui kombinasi kebijakan DMO, distribusi (D1 dan D2), serta HET. Sementara harga minyak premium dan curah mengikuti mekanisme pasar.

Dampak Konflik Global ke Harga Minyak Goreng

Kenaikan harga minyak goreng premium dan curah tidak lepas dari dampak global, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga energi dunia, termasuk minyak mentah yang naik dari sekitar 60 dolar AS per barel menjadi lebih dari 110 dolar AS per barel.

Selain itu, terganggunya jalur distribusi seperti Selat Hormuz berdampak pada kenaikan harga bahan baku turunan energi, termasuk plastik untuk kemasan minyak goreng.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
Market

Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP, Maksimal 25 Kg per Orang untuk Cegah Penimbunan

finnews.id – Pemerintah resmi membatasi pembelian beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga...

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG jatuh 3,38%, asing net sell Rp2 triliun, BBCA hingga BMRI ditekan jual besar.
Market

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG Ambruk 3,38 Persen, Asing Kabur Rp2 Triliun, Saham Big Caps Dihantam Aksi Jual

finnews.id – Perdagangan penutup pekan menghadirkan tekanan besar di pasar modal domestik....

AMRT dan MAPI diproyeksi solid pada kuartal I-2026, sementara ACES berisiko di bawah ekspektasi. Harga minyak jadi ancaman baru sektor ritel.
Market

Saham Ritel Berpotensi Bergerak, Kinerja AMRT dan MAPI Diprediksi Solid, ACES Justru di Bawah Ekspektasi

finnews.id – Sektor ritel konsumsi non-primer mulai memunculkan sinyal menarik pada kuartal...

Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Market

Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan

finnews.id – Tekanan di pasar keuangan Asia kembali memanas. Mayoritas mata uang...