Lonjakan harga plastik menjadi tantangan baru bagi stabilitas harga minyak goreng, termasuk MinyaKita. Pemerintah dihadapkan pada pilihan apakah akan menyesuaikan HET atau tetap mempertahankannya.
“Ke depan, stabilitas harga MinyaKita sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam mengakomodasi kenaikan biaya kemasan,” jelas Tungkot.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah masih memiliki sejumlah instrumen kebijakan seperti bea keluar (duty) dan pungutan ekspor (levy).
Langkah ini dinilai mampu melindungi konsumen dan industri pangan, setidaknya dalam jangka pendek.
Konsumen Indonesia Jadi Fokus Utama
Sebagai produsen sekaligus konsumen minyak goreng sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas harga. Sekitar 280 juta penduduk Indonesia bergantung pada minyak goreng untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan strategi DMO yang semakin efektif, pemerintah diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pasokan, harga, dan daya beli masyarakat di tengah tekanan global.