finnews.id – Pengembangan kawasan khusus jamaah Indonesia di Makkah atau yang dikenal sebagai Kampung Haji, hingga kini masih terus berproses.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyampaikan, kini proyek tersebut belum sepenuhnya mencapai tahap final, terutama karena masih menunggu hasil lanjutan dari proses tender lahan di Arab Saudi.
Proses Tender Tertunda Faktor Geopolitik
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir menjelaskan, bahwa penyelesaian tender lahan mengalami keterlambatan dari jadwal awal.
“Kita lagi nunggu dari pemerintah sana (Arab Saudi). Sebenarnya kita juga kejar-kejar. Dari sisi lot yang sudah kita bid, seharusnya sudah ada kabar sebelumnya, tapi kita masih menunggu. Jadi kita selalu berkomunikasi,” ungkap Pandu Sjahrir.
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama, yang memengaruhi proses tersebut.
Pemerintah Arab Saudi saat ini disebut lebih memprioritaskan stabilitas nasional dan kepentingan pertahanan.
“Kami mengejar (komunikasi), tapi kami juga tahu di Timur Tengah sedang mengalami guncangan,” jelasnya.
Meski demikian, pihak Danantara tetap aktif menjalin komunikasi untuk memastikan kelanjutan proyek tetap berjalan sesuai rencana.
Aset Awal Sudah Siap Digunakan
Di tengah proses yang masih berlangsung, Danantara telah memiliki aset yang siap dimanfaatkan.
Salah satunya adalah hotel di kawasan Thakher, yakni Novotel Thakher Makkah, yang sudah dapat digunakan oleh jamaah haji Indonesia mulai tahun 2026.
“Sudah bisa (digunakan). Ratingnya bagus, semua ngasihnya 5 star. Happy banget semua yang pakai di sana,” ucapnya.
Hotel tersebut memiliki kualitas layanan, yang dinilai sangat baik dan menjadi langkah awal dalam pengembangan ekosistem Kampung Haji.
Pengembangan Bertahap dari Kawasan Thakher
Proyek Kampung Haji dirancang tidak dibangun sekaligus, melainkan melalui tahapan.
Kawasan Thakher dipilih sebagai fondasi awal, karena telah memiliki infrastruktur dan aset yang siap dikembangkan.
Selain itu, Danantara juga masih mengikuti proses lelang yang dikelola oleh Royal Commission for Makkah City and Holy Sites untuk mendapatkan peluang lokasi lain yang lebih dekat dengan pusat aktivitas ibadah.