finnews.id – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan rencana besar, khususnya dalam pengembangan sektor transportasi berbasis rel.
Salah satu fokus utamanya adalah memperluas jaringan kereta api nasional, dengan target penambahan jalur hingga sekitar 14.000 kilometer.
Proyek ambisius ini diperkirakan membutuhkan dana fantastis, yang mencapai sekitar Rp 1.200 triliun.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang, untuk memperkuat konektivitas antar wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita perlu membangun atau mengembangkan dan mereaktivasi kurang lebih 14.000 km. Dan itu tentu tidak bisa seketika, perlu proses jangka menengah dan jangka panjang. Sehingga harus ada quick wins-nya dan harus ada anggaran yang memadai,” ungkap AHY dalam konferensi pers di Stasiun Tanah Abang
Dengan jaringan rel yang semakin luas, distribusi barang dan mobilitas masyarakat diharapkan menjadi lebih efisien dan merata.
Pengembangan tersebut tidak hanya fokus pada pembangunan jalur baru, tetapi juga mencakup revitalisasi rel lama serta integrasi dengan moda transportasi lain.
“Jika kita ingin menambah, katakanlah tadi 14.000 km dalam sekian tahun ke depan, maka biayanya itu diperkirakan sekitar Rp 1.200 triliun, 20 tahun hingga 2045,” jelasnya.
“Sederhananya, jika dibagi 20 tahun, kurang lebih Rp 60-65 triliun harus disiapkan untuk bisa mengembangkan dan memenuhi target ataupun roadmap seperti itu,” sambungnya.
Pemerintah ingin memastikan sistem perkeretaapian dapat terhubung secara optimal, dengan sektor transportasi darat lainnya.
“Tentunya bukan hanya dibebankan pada APBN, tapi juga APBD karena pemerintah daerah harus terlibat langsung. Selain itu, ada juga skema kerja sama antara pemerintah dan swasta, seperti KPBU, termasuk investasi dari luar. Kita harapkan ada sumber-sumber keuangan kreatif lainnya,” tuturnya.
Kereta api dinilai sebagai moda transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, dalam mendukung distribusi barang dalam jumlah besar.
Dirinya menegaskan, hitungan anggaran tersebut belum bersifat final. Sebab, biaya pembangunan jalur kereta akan berbeda-beda di setiap wilayah.