finnews.id – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan hari ini. Komoditas unggulan ini terpaksa parkir di zona merah dan berisiko mencatatkan penurunan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Kondisi pasar global yang tidak menentu menjadi pemicu utama ambruknya harga komoditas andalan Indonesia dan Malaysia tersebut.
Sentimen negatif datang dari jatuhnya harga minyak mentah dunia serta pelemahan minyak kedelai (soyoil) di bursa Chicago. Penurunan ini memberikan tekanan hebat bagi para pelaku pasar sawit yang sejak awal pekan sudah menghadapi tantangan volatilitas harga. Lantas, sampai kapan tren penurunan ini akan berlanjut?
Minyak Mentah Anjlok, Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Pemicu
Pelemahan harga minyak bumi memberikan efek domino yang cukup telak terhadap CPO. Melandainya harga minyak mentah terjadi setelah muncul optimisme terkait meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kabar mengenai kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel menjadi angin segar yang justru menekan harga energi.
Selain itu, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai potensi pertemuan dengan Iran pada akhir pekan ini semakin meredam kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global. Ketika harga minyak mentah merosot, daya tarik CPO sebagai bahan baku campuran biodiesel pun otomatis memudar. Para produsen biodiesel cenderung beralih jika selisih harga antara minyak fosil dan minyak nabati sudah tidak lagi ekonomis.
Cek Data: Harga Sawit di Bursa Derivatif Malaysia Hari Ini
Berdasarkan data perdagangan hari Jumat (17/4/2026), kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Juli di Bursa Derivatif Malaysia terpangkas 21 ringgit atau menyusut sekitar 0,47%. Pada jeda perdagangan tengah hari, harga CPO berada di level 4.474 ringgit per metrik ton atau setara dengan USD1.131,80.
Jika kita melihat performa sepanjang pekan ini, kontrak tersebut sudah melorot sebesar 0,51%. David Ng, seorang trader dari Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur, menyebutkan bahwa tekanan dari harga komoditas kompetitor selama jam perdagangan Asia benar-benar menyeret posisi pasar ke level yang lebih rendah.
Persaingan Ketat dengan Minyak Kedelai Global
Pasar minyak nabati global sangat kompetitif. Harga sawit biasanya mengekor pergerakan minyak pesaing seperti minyak kedelai demi memperebutkan pangsa pasar global. Saat ini, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian memang tercatat naik 0,39%, namun soyoil di Chicago Board of Trade (CBOT) justru terkoreksi 0,2%.
Perbedaan arah pergerakan di berbagai bursa internasional ini membingungkan pelaku pasar, namun kecenderungan harga di Chicago seringkali menjadi kompas utama bagi harga CPO global. Meskipun demikian, pelemahan nilai tukar Ringgit sebesar 0,03% terhadap dolar AS sedikit membantu menahan kejatuhan lebih dalam. Mata uang Ringgit yang lebih murah membuat harga sawit menjadi lebih terjangkau bagi para importir asing yang memegang dolar.
Proyeksi Biodiesel Malaysia dan Analisis Teknikal
Di tengah gempuran tren negatif, ada kabar positif dari sisi konsumsi domestik. Malaysian Palm Oil Board memproyeksikan peningkatan konsumsi biodiesel berbasis sawit di Malaysia hingga lebih dari 300.000 metrik ton per tahun. Langkah ini mengikuti jejak Indonesia dalam memperkuat mandat pencampuran bahan bakar nabati guna menekan ketergantungan pada impor energi fosil.
Bagaimana prospek harga ke depan? Analis Reuters Wang Tao memberikan pandangan teknikal yang menarik. Meskipun saat ini melemah, harga minyak sawit memiliki potensi besar untuk menembus level resistance di 4.517 ringgit per metrik ton. Jika level tersebut berhasil ditembus, harga diprediksi bisa rebound dan merangkak naik menuju kisaran 4.566 hingga 4.584 ringgit dalam waktu dekat. (*)