finnews.id – Pasar keuangan Asia meledak di pembukaan perdagangan Selasa (14/4/2026)! Meskipun Selat Hormuz masih mencekam akibat blokade militer Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, gairah investor justru tak terbendung. Optimisme global membuncah seiring harapan bahwa kesepakatan damai antara Washington dan Teheran masih mungkin tercapai. Jika Anda melewatkan momentum pagi ini, bersiaplah tertinggal jauh dari reli panjang yang sedang berlangsung.
IHSG diprediksi akan melanjutkan pesta penguatan hari ini setelah sukses mendarat di level psikologis 7.500 pada penutupan kemarin. Aliran dana asing yang mulai membanjiri pasar domestik serta dukungan dari indeks global menjadi bahan bakar utama. Mari kita bedah mengapa bursa saham pagi ini sangat layak untuk Anda pantau secara intensif.
Asia Dibuka Melaju: Kospi dan Nikkei Kompak Melonjak Tajam
Sentimen positif dari Wall Street semalam menular cepat ke pasar regional. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin kenaikan dengan lonjakan fantastis lebih dari 2,7% di pembukaan, dan terus melesat hingga 3,10% ke level 5.988,40 pada pukul 08.15 WIB. Tak mau kalah, Nikkei 225 Jepang juga terbang 2,42% ke level 57.869,09.
Investor seolah mengabaikan gertakan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memperingatkan dunia akan merindukan harga bensin murah jika blokade terus berlanjut. Meski tensi geopolitik tinggi, koreksi harga minyak mentah dini hari tadi—di mana WTI turun ke USD96,73 dan Brent ke USD97,51—memberikan ruang napas bagi pasar saham untuk terus mendaki.
IHSG Menatap Level 7.600: Asing Mulai Agresif Borong Saham
Bagaimana dengan pasar modal Indonesia? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berpotensi besar melanjutkan tren bullish. Kemarin, IHSG menguat 0,56% ke posisi 7.500,19 dengan catatan beli bersih asing (net buy) mencapai Rp626 miliar. Fokus investor mancanegara tertuju pada saham-saham komoditas dan konglomerasi besar.
Katalis positif juga datang dari keputusan FTSE Russell yang tetap mempertahankan status Indonesia dalam indeks mereka. Secara teknikal, indikator MACD menunjukkan tren penguatan yang solid, didukung oleh RSI yang bergerak naik. Para analis memproyeksikan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung menguat dalam rentang support 7.400 dan resistance kuat di 7.600.
Wall Street Hijau Royo-Royo: Teknologi dan Keuangan Jadi Motor
Penguatan di Asia tak lepas dari performa apik bursa Amerika Serikat. Sektor teknologi melonjak dipimpin oleh Microsoft (+3,6%) dan Oracle yang terbang 12,7%. Donald Trump sempat sesumbar bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, meski ia menegaskan tidak akan membiarkan Teheran memiliki senjata nuklir. Pernyataan ini, ditambah dengan melorotnya harga minyak, meredakan kecemasan pasar terhadap risiko stagflasi.
Meskipun data penjualan rumah di AS Maret lalu menyentuh level terendah dalam sembilan bulan, investor lebih memilih fokus pada laporan keuangan bank-bank besar yang segera dirilis. Indeks S&P 500 melaju 1,02%, sementara Nasdaq Composite menanjak 1,23%.
Harga Minyak dan Emas: Volatilitas yang Harus Diwaspadai
Di pasar komoditas, situasinya jauh lebih dinamis. Harga minyak fisik untuk pengiriman segera ke Eropa sempat menyentuh rekor mengerikan di kisaran USD150 per barel. Namun, kontrak berjangka menunjukkan angka yang lebih stabil di kisaran USD99 per barel karena adanya harapan deeskalasi konflik. OPEC sendiri telah menurunkan proyeksi permintaan global, yang secara tidak langsung menekan harga.
Sementara itu, harga emas justru melemah tipis. Penguatan dolar AS dan berkurangnya peluang pemangkasan suku bunga The Fed menjadi faktor penekan. Pasar kini hanya memperkirakan probabilitas penurunan suku bunga sebesar 29%, turun drastis dari 40% bulan lalu. Emas spot terkoreksi 0,3% ke level USD4.734,50 per ounce. (*)