finnews.id – Pasar komoditas global mendadak panas membara! Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives Exchange langsung melesat lebih dari 1% pada perdagangan Senin (13/4/2026). Gejolak geopolitik yang semakin mencekam di Timur Tengah menjadi motor utama di balik lonjakan harga si “emas cair” ini. Jika Anda tidak memantau pergerakan ini sekarang, Anda mungkin akan ketinggalan momentum saat harga komoditas nabati dunia mulai merombak peta pasar global.
Kenaikan ini merupakan pemulihan yang cukup mengejutkan setelah sempat tersungkur pada akhir pekan lalu. Para pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko ke dalam harga setelah melihat eskalasi militer yang kian nyata. Ketegangan ini bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman langsung bagi pasokan energi dan bahan baku biodiesel dunia yang sangat bergantung pada kestabilan kawasan Teluk.
Blokade Selat Hormuz Jadi Biang Keladi Lonjakan Harga
Apa yang sebenarnya memicu kepanikan investor? Rencana Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memblokade kapal-kapal dari dan menuju Iran melalui Selat Hormuz menjadi pemicu utamanya. Langkah ekstrem ini diambil Washington setelah perundingan damai dengan Teheran gagal total. Akibatnya, harga minyak mentah dunia terbang tinggi di atas USD 100 per barel. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan minat beli terhadap minyak sawit sebagai alternatif bahan baku energi hijau atau biodiesel.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Juni melompat 50 ringgit atau sekitar 1,1%, hingga mendarat di posisi 4.588 ringgit (USD 1.155,38) per metrik ton pada jeda siang ini. Angka ini menghapus sebagian besar kerugian 2,26% yang terjadi pada sesi Jumat sebelumnya. Para trader kini sedang berlomba menambah premi risiko karena khawatir konflik akan mengganggu jalur logistik maritim paling krusial di dunia tersebut.
Stok Sawit Malaysia Anjlok ke Level Terendah 7 Bulan
Bukan hanya faktor perang, data internal dari Negeri Jiran juga menambah bensin ke dalam api kenaikan harga. Persediaan minyak sawit Malaysia sepanjang Maret dilaporkan merosot selama tiga bulan berturut-turut. Saat ini, stok berada pada level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Penurunan cadangan ini terjadi karena lonjakan angka ekspor yang jauh lebih besar daripada pertumbuhan produksi (output) yang tergolong moderat.