finnews.id – Kabar mengejutkan kembali mengguncang pasar energi global! Kamu harus bersiap menghadapi gejolak ekonomi baru karena harga minyak dunia baru saja meledak di awal pekan ini. Tidak tanggung-tanggung, harga si “emas hitam” kembali menembus level psikologis USD 100 per barel. Pemicunya? Amerika Serikat secara resmi mengumumkan rencana blokade total terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz!
Isu mengenai blokade ini menjadi “bom waktu” bagi stabilitas ekonomi dunia. Langkah ekstrem Washington ini muncul setelah negosiasi maraton antara Amerika Serikat dan Iran berakhir gagal total tanpa kesepakatan damai. Jika kamu merasa harga bensin sudah cukup mencekik, informasi ini adalah alarm keras karena pasokan energi dunia kini berada dalam ancaman serius yang bisa membuat harga bensin melambung tinggi dalam waktu dekat.
Brent dan WTI Kompak Melejit: Pasar Merespons Aksi Blokade
Pasar minyak bereaksi sangat agresif terhadap pengumuman mendadak dari Gedung Putih. Berdasarkan data perdagangan Senin pagi (13/4/2026), harga minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, langsung melesat USD 6,71 atau sekitar 7,05% menuju angka USD 101,91 per barel. Padahal, pada perdagangan Jumat sebelumnya, harga Brent sempat melandai tipis.
Nasib serupa menimpa patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI). Harga WTI bahkan melonjak lebih tajam, yakni naik USD 7,59 atau setara 7,86% ke posisi USD 104,16 per barel. Lonjakan ini membuktikan betapa paniknya investor terhadap potensi hilangnya aliran minyak mentah secara masif dari pasar global. Dunia kini sedang menahan napas melihat ketegangan geopolitik yang semakin tidak terkendali.
Trump Perintahkan Angkatan Laut AS “Cekik” Ekspor Minyak Iran
Presiden Donald Trump pada hari Minggu secara terbuka menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memulai operasi blokade di Selat Hormuz. Langkah berani ini bertujuan untuk menutup aliran sekitar 2 juta barel minyak per hari yang terkait dengan Iran. Trump bahkan sudah mengakui risiko politik dari kebijakannya ini, terutama mengenai harga bensin yang kemungkinan akan tetap membumbung tinggi hingga pemilu sela November mendatang.