Catatan Dahlan Iskan

Agus Mustofa

Bagikan
Agus Mustofa
Bagikan

Saat dalam perjalanan dakwahnya, badannya panas. Tubuhnya menggigil. Diobati tidak sembuh. Ia masuk rumah sakit: besannya dokter spesialis di Unair. Bisa tertangani dengan baik.

Kecurigaan umum para dokter jelas: ada virus atau infeksi. Panas dan demam bersumber dari sana. Tapi berbagai pemeriksaan tidak ditemukan virus apa pun. Tidak terjadi infeksi di bagian mana pun.

Ada tambahan keluhan: cegukan. Berkepanjangan. Berhari-hari. Minggu. Bulan. Juga tidak ditemukan penyebabnya. Saya sampai ikut bertanya sampai ke berbagai AI. Jawab AI: ada orang yang cegukan selama 63 tahun. Di Amerika. Tidak apa-apa. Sampai orang itu kawin cerai tiga kali –mungkin istrinya merasa terganggu.

Jawaban AI itu saya forward kepadanya: bisa buat hiburan orang sakit. “Umur saya sekarang 63 tahun,” katanya. “Kalau saya harus cegukan selama 63 tahun berarti saya baru akan meninggal di umur 126 tahun,” guraunya.

Agus memang suka bergurau. Ia murah senyum. Juga rendah hati –mungkin terbawa tasawufnya itu. Ia tidak mudah menegur orang –apalagi memvonis seseorang.

Istrinya sendiri tidak dipaksa bangun ketika waktu subuh tiba. Ibu rumah tangga perlu istirahat yang cukup. Apalagi dia usaha di bidang makanan dan perkuean. Waktu sang istri bangun kaget. Matahari sudah terbit.

Melihat istrinya bangun Agus baru minta agar dia salat subuh. “Matahari sudah terbit,” kata sang istri. “Tidak apa-apa. Salat saja,” kata Agus. “Di kawasan lain matahari belum terbit,” tambahnya.

Sang istri, Anna Ratnawati, juga bercerita Agus tidak pernah minta dia masuk Islam. Juga tidak pernah memaksa mengajari ngaji Quran.

Mereka kenal saat sama-sama SMP di Malang. Agus ketua OSIS. Anna sekretaris. Anna sangat terkesan dengan kepintaran dan budi pekerti Agus. Waktu SMA mereka terpisah sekolah, tapi masih sama-sama di Malang. Hobi mereka sama: main gitar.

Ketika Agus masuk teknik nuklir UGM, Anna kuliah di Malang. Tapi hati mereka sudah tidak bisa dipisah. Pun ketika ayah Anna akan menjodohkannyi dengan seorang dokter.

Mereka menikah di Yogyakarta. Dia berangkat naik bus ke Yogyakarta. Sendirian. Orang tuanyi tidak merestui –soal perbedaan agama.

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Dor! Dor!

Prabowo juga heran: dengan tumbuh 5 persen setiap tahun, selama tujuh tahun,...

Catatan Dahlan Iskan

Rujak Ambon

  Saya menyesal membeli tiket termahal. Kabin untuk kelas terbaik ini ternyata...

Catatan Dahlan Iskan

Kenari Tua

  Sepasang sumur tua hanya saya lihat sesapuan. Pun pohon sejuta umat....

Catatan Dahlan Iskan

Rumah Pala

  Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim...